Dengan landasan yang tampak kuat ini, BI pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan lebih tinggi. Angkanya diprediksi berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. Bandingkan dengan proyeksi 2025 yang 'hanya' di rentang 4,7 persen hingga 5,5 persen.
Menurut Destry, ruang untuk tumbuh masih terbuka lebar. Pasalnya, ekonomi nasional saat ini dinilai masih bergerak di bawah potensi optimalnya. Masih ada celah untuk dikejar.
Nah, untuk menjaga momentum sekaligus stabilitas, BI tidak tinggal diam. Mereka menerapkan bauran kebijakan yang komprehensif. Kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran digerakkan bersamaan. Semua ini didukung pula oleh upaya pendalaman pasar uang serta dorongan untuk kebijakan ekonomi dan keuangan hijau.
Soal stabilitas nilai tukar dan likuiditas? BI juga aktif turun tangan. Mereka melakukan ekspansi likuiditas, salah satunya melalui Kredit Likuiditas yang nilainya mencapai sekitar Rp388 triliun. Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder juga menjadi bagian dari langkah ini.
"Bank Indonesia punya komitmen untuk masuk dan menyediakan likuiditas guna menggerakkan perekonomian," tutur Destry menegaskan komitmen lembaganya.
Secara keseluruhan, nada yang disampaikan BI terasa optimis namun tetap waspada. Mereka yakin fondasinya kuat, tapi tetap bersiap dengan berbagai instrumen kebijakan untuk memastikan pertumbuhan berjalan mulus dan stabil.
Artikel Terkait
Prabowo di Davos: Saat Dunia Rapuh, Indonesia Jadi Titik Terang
Dubes Iran di Jakarta Tegaskan Jaminan Keamanan untuk WNI di Tengah Kerusuhan
Tips Memilih Jam Tangan yang Cocok untuk Segala Momen
Tragis di Tengah Kemacetan: Sopir Ditemukan Tewas di Setir Mobil