Pangalengan yang biasanya tenang tiba-tiba gempar. Kabar perusakan kebun teh di kawasan ini menyebar cepat lewat media sosial, menarik perhatian banyak pihak. Tak terkecuali Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akhirnya turun tangan.
Ia langsung meminta Pemerintah Kabupaten Bandung dan Polda Jabar mengambil langkah tegas. "Perusakan tersebut sistemik," tegas Dedi.
Menurutnya, ada pola yang berulang dalam kasus ini. "Saya mendapat informasi bahwa ada orang yang punya uang kemudian menggerakkan orang untuk melakukan penebangan kebun teh," ujarnya.
Motifnya jelas: alih fungsi lahan. Orang itu diduga membiayai perusakan agar kebun teh bisa berubah menjadi kebun kentang. "Perusakan tujuannya untuk menanam kentang dan kentangnya nanti dibeli oleh dia," katanya lagi.
Di sisi lain, keluhan para petani terdengar menyentuh. Seorang petani dengan nada prihatin bertutur, "Kumaha ieu teh hayoh wae diragajian, ari ieu rek darahar ti mana atuh."
Mereka pun menunjukkan barisan tanaman teh yang tercabut dari tanah, pemandangan yang memilukan bagi siapa saja yang melihatnya.
Vena Andriawan, Camat Pangalengan, membenarkan masalah ini sudah terjadi dua kali dan makin meluas. "Kalau setahu saya, saat ini sudah ada 60 hektar yang terokupasi dan terus bertambah," ungkapnya.
Penyerobotan terjadi di berbagai titik, seringnya pada malam hari. Luasnya area yang diserobot ini bikin para pekerja kebun marah besar, soalnya lahan sumber penghasilan mereka ikut rusak.
PTPN 1 Regional 2 sendiri menghadapi kendala serius dalam menjaga lahan seluas 6.000 hektare. Masalahnya, tenaga pengawasan mereka terbatas. "Mereka bilangnya, karena keterbatasan personil. Di blok A misalnya dijaga, tapi blok C malah dijarah," jelas Vena.
Artikel Terkait
Laras Faizati Bebas Bersyarat, Karier Cemerlang di AIPA Terhenti
Kunjungan Wapres ke Yahukimo Batal, Pesawat Hercules Dihadang Tembakan
Guru di Jambi Dikeroyok Murid, Tamparan Pembelajaran Picu Kericuhan
Said Iqbal Tuding Dedi Mulyadi Sibuk Ngonten, Abaikan Aspirasi Buruh