Pangalengan yang biasanya tenang tiba-tiba gempar. Kabar perusakan kebun teh di kawasan ini menyebar cepat lewat media sosial, menarik perhatian banyak pihak. Tak terkecuali Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akhirnya turun tangan.
Ia langsung meminta Pemerintah Kabupaten Bandung dan Polda Jabar mengambil langkah tegas. "Perusakan tersebut sistemik," tegas Dedi.
Menurutnya, ada pola yang berulang dalam kasus ini. "Saya mendapat informasi bahwa ada orang yang punya uang kemudian menggerakkan orang untuk melakukan penebangan kebun teh," ujarnya.
Motifnya jelas: alih fungsi lahan. Orang itu diduga membiayai perusakan agar kebun teh bisa berubah menjadi kebun kentang. "Perusakan tujuannya untuk menanam kentang dan kentangnya nanti dibeli oleh dia," katanya lagi.
Di sisi lain, keluhan para petani terdengar menyentuh. Seorang petani dengan nada prihatin bertutur, "Kumaha ieu teh hayoh wae diragajian, ari ieu rek darahar ti mana atuh."
Mereka pun menunjukkan barisan tanaman teh yang tercabut dari tanah, pemandangan yang memilukan bagi siapa saja yang melihatnya.
Vena Andriawan, Camat Pangalengan, membenarkan masalah ini sudah terjadi dua kali dan makin meluas. "Kalau setahu saya, saat ini sudah ada 60 hektar yang terokupasi dan terus bertambah," ungkapnya.
Penyerobotan terjadi di berbagai titik, seringnya pada malam hari. Luasnya area yang diserobot ini bikin para pekerja kebun marah besar, soalnya lahan sumber penghasilan mereka ikut rusak.
PTPN 1 Regional 2 sendiri menghadapi kendala serius dalam menjaga lahan seluas 6.000 hektare. Masalahnya, tenaga pengawasan mereka terbatas. "Mereka bilangnya, karena keterbatasan personil. Di blok A misalnya dijaga, tapi blok C malah dijarah," jelas Vena.
Sementara dari kepolisian, Kompol Luthfi Olot Gigantara dari Satreskrim Polresta Bandung mengungkapkan pemeriksaan lapangan menunjukkan perusakan sudah berlangsung sejak awal Oktober. Ada tiga titik yang rusak parah.
"Di Blok Bojong Waru, Desa Margamulya, ditemukan lima hektar tanaman teh telah ditebang dari pangkal batangnya, kemudian dibiarkan mengering," paparnya pada Jumat (28/11/2025).
Kerusakan lebih luas terjadi di Blok Cipicung I, mencapai 8,25 hektar. Sedangkan di Blok Cipicung II sekitar 1 hektar tanaman mengalami nasib serupa.
Yang lebih mengkhawatirkan, tanaman teh yang sudah ditebang itu diduga sengaja dibiarkan mengering untuk dibakar. "Banyak kami dapati tumpukan tanaman teh yang telah dipotong dan diduga akan dibakar," tutur Olot.
Aksi perusakan ini dilakukan diam-diam, bahkan sering pada dini hari saat petugas patroli belum berjaga. Polresta Bandung kini menyiapkan langkah lanjutan, termasuk pemanggilan pihak PTPN VIII dan Kementerian BUMN awal Desember nanti.
Dedi Mulyadi meminta para petani tetap tenang. Ia memastikan penindakan akan segera dilakukan polisi. Instruksi gubernur ini muncul setelah aksi demonstrasi Serikat Pekerja Perkebunan Teh yang menuntut perlindungan bagi PTPN.
Dedi juga mendesak Pemkab Bandung turun tangan, mengingat sudah ada Peraturan Gubernur yang melarang perubahan fungsi lahan teh karena dampak buruknya terhadap lingkungan.
"Kami akan melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap pelaku serta motif di balik perusakan ini," pungkas Kompol Olot, menegaskan komitmen penegakan hukum.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor