Studi Ungkap Dua Pertiga Polusi Plastik di Udara Kota Berasal dari Keausan Ban

- Selasa, 03 Maret 2026 | 10:30 WIB
Studi Ungkap Dua Pertiga Polusi Plastik di Udara Kota Berasal dari Keausan Ban

Bayangkan ini: dua dari setiap tiga partikel plastik halus yang Anda hirup di kota, ternyata berasal dari ban kendaraan yang aus. Fakta mengejutkan ini muncul dari sebuah penelitian terbaru, dan ia membawa peringatan yang tak bisa diabaikan. Beralih ke kendaraan listrik mungkin tak serta-merta menyelesaikan masalah polusi udara. Malah, bisa jadi memperburuknya.

Selama beberapa tahun belakangan, para ilmuwan mulai sangat khawatir dengan keberadaan mikroplastik di udara. Partikel-partikel super kecil ini sudah ditemukan di mana-mana, bahkan di tempat-tempat yang paling terpencil sekalipun seperti puncak gunung tinggi atau daerah kutub yang beku. Mereka bukan cuma mengganggu keseimbangan alam, tapi juga mengancam kesehatan manusia. Tak heran jika kemudian kandungan mikroplastik dalam air hujan pun dikaitkan dengan tingginya polusi partikel ini di atmosfer.

Lalu, apa bedanya mikroplastik dan nanoplastik? Nanoplastik itu ukurannya di bawah satu mikrometer sangat, sangat kecil. Sementara mikroplastik sedikit lebih besar, antara satu mikrometer hingga satu milimeter. Karena ukurannya yang mikroskopis, terutama nanoplastik, mereka bisa dengan mudah terhirup dan masuk jauh ke dalam paru-paru. Beberapa studi menunjukkan partikel ini bisa memicu stres oksidatif dan peradangan, yang ujung-ujungnya berkontribusi pada penyakit pernapasan. Bahayanya bertambah karena di permukaannya, partikel ini seringkali membawa ‘tumpangan’ beracun seperti logam berat atau senyawa hidrokarbon.

Sidik Jari Plastik di Udara

Nah, masalahnya, mencari tahu sumber pasti mikroplastik di udara itu sulit. Metode pengamatan biasa punya keterbatasan, terutama untuk mendeteksi partikel berukuran nano dan mengidentifikasi jenis plastiknya secara akurat.

Namun begitu, sebuah tim peneliti dari Jerman berhasil mengatasi hambatan itu. Mereka berasal dari Institut Penelitian Troposfer Leibniz (TROPOS) dan Universitas Carl von Ossietzky Oldenburg. Dalam studi yang terbit di jurnal Communications Earth & Environment akhir 2025 lalu, mereka memakai teknik canggih bernama kromatografi gas–spektrometri massa pirolisis (Py-GC-MS) untuk mengidentifikasi “sidik jari” kimia plastik di udara. Intinya, mereka bisa melacak jenis polimernya.

Mereka memfokuskan pada 11 jenis polimer umum, termasuk partikel dari keausan ban, polietilen (PE), PVC, PET, dan lain-lain. Sampel udara diambil dari jalan arteri yang padat di Leipzig, Torgauer Strasse, selama dua minggu di September 2022. Alatnya menyedot 500 liter udara per menit, memberikan gambaran yang sangat detail tentang komposisi plastik di area lalu lintas tinggi.

“Hal ini memberi kami gambaran yang terfokus dan detail tentang komposisi mikro-nano plastik di daerah dengan lalu lintas padat,” jelas Ankush Kaushik, mahasiswa doktoral di TROPOS yang terlibat dalam penelitian.

“Sepengetahuan kami, studi ini merupakan kuantifikasi mikro- dan nanoplastik di udara yang dipisahkan berdasarkan ukuran dan resolusi polimer pertama di Jerman,” tambahnya.

Hasilnya? Cukup mencengangkan. Sekitar 65 persen atau sekitar dua pertiga plastik di udara ternyata berasal dari keausan ban kendaraan. Polimer lain seperti PVC atau PET terdeteksi dalam jumlah yang jauh lebih kecil, dan polusi ini berkorelasi kuat dengan emisi lalu lintas kendaraan.

Tim lalu menghitung berapa banyak partikel ini yang terhirup. Estimasi mereka, seseorang yang terpapar di lokasi itu selama 24 jam bisa menghirup sekitar 2,1 mikrogram partikel plastik. Jumlahnya terdengar kecil, setara 0,7 miligram per tahun. Tapi jangan salah.

Ukurannya yang super halus justru meningkatkan potensi dampak biologisnya. Dengan model yang ada, studi ini memproyeksikan peningkatan risiko kematian antara 5–13 persen untuk penyakit paru dan jantung, serta kanker paru-paru.

“Ini lebih tinggi daripada risiko partikel halus PM2.5 secara umum di Eropa,” tegas Kaushik. “Plastik mikro-nano, meskipun massanya rendah, dapat menimbulkan risiko kesehatan dari waktu ke waktu.”

Paradoks Kendaraan Listrik

Di sinilah temuan ini menjadi penting bagi kebijakan. Dominasi keausan ban sebagai sumber polusi plastik punya implikasi besar.

“Dengan sekitar dua pertiga mikroplastik berasal dari abrasi ban, ini menunjukkan bahwa masalah debu halus tidak dapat diselesaikan hanya dengan beralih ke mobilitas listrik,” kata Hartmut Herrmann dari TROPOS, yang memimpin studi tersebut.

Pernyataannya punya dasar yang kuat. Riset terpisah dari Imperial College London pada 2023 menunjukkan bahwa kendaraan listrik biasanya 20–30 persen lebih berat daripada mobil konvensional, akibat baterainya yang besar dan padat.

Bobot tambahan ini meningkatkan tekanan pada ban dan berpotensi mempercepat keausan.

Secara global, diperkirakan enam juta ton partikel dari keausan ban terlepas ke lingkungan setiap tahunnya. Partikel ini mengandung koktail bahan kimia beracun, mulai dari hidrokarbon, benzotiazol, hingga logam berat seperti seng. Partikel besar biasanya hanyut terbawa air hujan ke sungai dan laut. Sementara partikel yang lebih halus dan ringan, tetap melayang di udara, siap untuk kita hirup.

Studi dari Leipzig ini pada akhirnya memperluas cara pandang kita tentang polusi udara. Persoalannya bukan lagi cuma asap knalpot hitam atau gas karbon. Di balik kendaraan yang semakin sunyi dan ‘bebas emisi’, ternyata ada partikel plastik tak kasatmata yang tetap beterbangan.

Transisi menuju transportasi rendah karbon tetaplah penting dan mendesak untuk mengatasi krisis iklim. Tapi, jika kebijakan udara bersih hanya fokus mengawasi emisi dari knalpot, maka sebagian besar mikroplastik akan terus mengambang di langit kota-kota kita.

Mobil boleh saja tanpa asap. Namun, tanpa upaya serius untuk mengendalikan keausan ban dan regulasi partikel non-knalpot, udara yang kita hirup tetap akan membawa residu plastik yang tak terlihat. Dan bahayanya, mungkin tak kalah serius.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar