Musim kemarau tahun ini diprediksi bakal lebih panjang dari biasanya. Itulah inti peringatan yang disampaikan BMKG dalam jumpa pers daring, Rabu (4 Maret 2026). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, membeberkan data yang cukup membuat kita perlu bersiap.
Menurutnya, awal musim kering akan dimulai pada bulan April mendatang. Tepatnya, sekitar 114 zona musim atau 16,3 persen dari total 699 zona di Indonesia akan mulai merasakannya.
"Awal musim kemarau bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April, yaitu ada 114 zona musim atau 16,3 persen dari seluruh zona musim yang adai di Indonesia sejumlah 699,"
kata Teuku.
Gelombang kemarau ini nantinya akan merambat. Wilayah Nusa Tenggara disebut jadi yang pertama merasakan. Setelah itu, cuaca panas bakal bergerak perlahan ke arah barat, menjangkau wilayah-wilayah lain di Tanah Air.
Yang perlu diwaspadai, musim kemarau tahun ini tak cuma lebih panjang. Datangnya juga lebih awal di banyak tempat. Data BMKG menunjukkan, 325 zona musim atau hampir setengah (46,5 persen) dari total zona akan mengalaminya. Curah hujan pun dipastikan bakal rendah, bahkan cenderung kering.
"Akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia yaitu di 451 zona musim atau 64,5 persen dari seluruh zona musim diprediksi pada kategori bawah normal atau mudahnya lebih kering dari biasanya,"
jelas Teuku lagi.
Puncak dari semua ini diperkirakan terjadi di bulan Agustus. Tapi inti masalahnya ada di durasi. Sekitar 400 zona musim atau 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami musim kemarau yang lebih lama ketimbang rata-rata tahun-tahun sebelumnya.
"Jadi ini perlu dicatat bahwa musim kemarau yang akan kita hadapi di tahun 2026 akan lebih panjang dari normalnya,"
tegasnya.
Di akhir pemaparannya, Teuku berharap prediksi ini tak sekadar jadi wacana. Informasi ini harus jadi acuan nyata bagi para pengambil kebijakan, terutama di sektor-sektor yang rentan terdampak perubahan iklim.
"Kami berharap informasi prediksi musim kemarau 2026 ini dapat menjadi panduan umum dalam penetapan perencanaan langkah mitigasi dan antisipasi serta kebijakan jangka panjang bagi berbagai sektro yang terdampak iklim,"
pungkasnya.
Artikel Terkait
Polda Banten Gelar Simulasi Antisipasi Kerusuhan Jelang May Day
Wagub Rano Karno Klaim 88,1% Genangan di Jakarta Tahun 2025 Tertangani Kurang dari Dua Jam
Menteri Luar Negeri Turki: Negosiasi AS-Iran di Titik Krusial, Ada Sinyal Positif
Polsek Parung Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal dalam Razia Gabungan