Kiai Didin Pertanyakan Niat AS Bentuk Dewan Perdamaian Palestina

- Minggu, 25 Januari 2026 | 23:00 WIB
Kiai Didin Pertanyakan Niat AS Bentuk Dewan Perdamaian Palestina
Artikel Ditulis Ulang

Bogor – Gagasan Amerika Serikat membentuk sebuah "Board of Peace" atau Dewan Perdamaian untuk Palestina menuai tanda tanya. Kritik pedas datang dari Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Prof Dr KH Didin Hafidhuddin. Baginya, inisiatif yang digagas Presiden AS Donald Trump ini terasa janggal, bahkan mengundang kecurigaan.

Alasannya sederhana tapi mendasar. Bagaimana mungkin pihak yang selama ini dianggap bermusuhan dengan kepentingan Palestina tiba-tiba jadi pelopor perdamaian? Kiai Didin mengaku masih bingung. Belum lagi soal keikutsertaan Indonesia dalam dewan itu. Ia benar-benar mempertanyakan logika di baliknya.

“Saya belum memahami alasan dibentuknya dewan perdamaian ini,” ujarnya.

“Sementara yang mempeloporinya adalah musuh utama Palestina, dan Indonesia justru diajak masuk.”

Pernyataan itu disampaikannya dalam kajian Ahad pagi, 25 Januari 2026, di Masjid Ibn Khaldun Bogor. Suasana saat itu tenang, namun nada bicaranya tegas.

Meski penuh keraguan, Kiai Didin tak sepenuhnya menutup harapan. Ia berharap dengan nada agak skeptis upaya ini tulus, bukan cuma akal-akalan politik belaka. “Mudah-mudahan saja memang betul-betul ingin berdamai,” katanya. Namun begitu, kewaspadaannya tetap tinggi.

Menurutnya, kunci kekuatan Israel sebenarnya ada di tangan Amerika dan sekutu-sekutunya. Tanpa sokongan itu, Israel takkan sanggup menghadapi keteguhan rakyat Gaza dan umat Islam Palestina. “Palestina itu luar biasa, umat Islamnya kuat,” tegas Kiai Didin. Ia yakin, andai dukungan itu dicabut, posisi Israel akan goyah.

Di sisi lain, ia mengajak umat Islam untuk tak berhenti berdoa dan mendukung perjuangan Palestina. “Kita berharap dan berdoa kepada Allah, ujungnya adalah kebaikan,” ucapnya. Tapi di balik seruan itu, ada pesan tersirat untuk tetap kritis.

Kiai Didin mengingatkan agar umat Islam jangan mudah tertipu. Waspadalah terhadap pihak-pihak yang memakai kedok perdamaian untuk melemahkan dan mengendalikan. Itu tipu daya klasik yang harus diwaspadai.

“Mudah-mudahan orang-orang yang menipu segera dibukakan oleh Allah,” pungkasnya.

“Agar mereka tidak bisa menguatkan kolaborasinya dengan menipu umat Islam atas nama perdamaian, padahal ujungnya ingin mengendalikan.”

Peringatannya jelas. Perdamaian jangan jadi alat permainan. Niatnya harus bersih, caranya harus adil. Kalau tidak, itu cuma ilusi atau lebih buruk lagi, sebuah jebakan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar