22 WNI Dievakuasi dari Iran Tiba di Indonesia Usai Jalani Perjalanan Darat Panjang

- Selasa, 10 Maret 2026 | 23:40 WIB
22 WNI Dievakuasi dari Iran Tiba di Indonesia Usai Jalani Perjalanan Darat Panjang

Suasana Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa sore (10/3/2026) menyambut kedatangan yang cukup mengharukan. Sebanyak 22 Warga Negara Indonesia akhirnya tiba dengan selamat di tanah air, setelah dievakuasi dari Teheran, Iran. Kondisi perang yang memanas antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat menjadi alasan utama pemulangan ini.

Prosesnya sendiri bukan perkara mudah. Mereka harus menempuh rute darat panjang menuju Turki, melalui Azerbaijan, baru kemudian bisa terbang pulang ke Indonesia.

Zulfan Lindan, salah seorang yang dipulangkan, bercerita bahwa semuanya berjalan cepat. Pemerintah membuka formulir pendaftaran evakuasi hanya dalam dua hari, Selasa dan Rabu pekan lalu.

“Dua hari kami mengisi form hari Selasa, hari Kamis kami ke Kota Teheran, menginap di hotel. Hari Jumat pagi subuh kami berangkat,” ujar Zulfan saat konferensi pers di bandara.

Namun begitu, ketegangan justru terasa saat mereka berkumpul di KBRI Teheran. Zulfan menggambarkan situasi saat itu benar-benar mencekam.

“Situasinya mencekam. Ketika kami berada di Kabari Teheran, itu 10 bom di atas Kabari itu lewat. Dan satu kilo sampai dua kilo itu bom itu luar biasa sehingga kaca-kaca di kedutaan itu bergetar,” tuturnya, masih terbayang jelas dengan kejadian itu. Suara ledakan, katanya, masih terdengar jelas dari jarak yang sangat dekat.

Perjalanan darat menuju perbatasan pun makan waktu tidak sebentar. Butuh sekitar sembilan jam hanya untuk mencapai perbatasan Iran-Azerbaijan. Belum lagi antrean di pos imigrasi Iran yang membuat mereka harus menunggu hampir lima jam.

“Nah, subuh kami baru berangkat, sekitar 9 jam sampai ke perbatasan Iran, yang lama itu 5 jam kami tunggu di imigrasi Iran,” jelas Zulfan.

Meski lelah dan sempat dihantui ketakutan, rasa lega jelas terpancar dari para WNI yang akhirnya kembali ke rumah. Mereka selamat, dan itu yang terpenting.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar