Saham Migas Anjlok di BEI Meski Harga Minyak Dunia Menguat

- Selasa, 03 Maret 2026 | 11:15 WIB
Saham Migas Anjlok di BEI Meski Harga Minyak Dunia Menguat

Harga minyak dunia memang lagi naik. Tapi, anehnya, saham-saham sektor migas di Bursa Efek Indonesia malah berbalik melemah pada Selasa (3/3/2026). Padahal, sentimen dari konflik Timur Tengah seharusnya mendorong harga. Rupanya, aksi ambil untung atau profit taking pasca reli tajam sehari sebelumnya jadi penjelasannya. Investor sepertinya memilih untuk mengamankan keuntungan dulu.

Pelemahannya cukup signifikan. PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) jadi yang terpuruk, anjlok 7,74 persen ke level Rp284 per saham. Tak jauh di belakang, saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) dan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) juga ikut terperosok, masing-masing turun lebih dari 5 persen.

Di sisi lain, saham-saham besar lain di sektor yang sama juga tak luput dari tekanan jual. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Elnusa Tbk (ELSA) sama-sama tergerus, sementara PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) catatkan penurunan lebih dari 2 persen. Bahkan, saham seperti PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) pun ikut terseret meski pelemahannya lebih tipis.

Lantas, apa yang mendorong kenaikan harga minyak itu sendiri? Jawabannya tetap sama: ketegangan di Timur Tengah yang belum reda. Pada sesi pagi Asia hari itu, harga minyak masih menguat karena risiko gangguan pasokan energi global masih dianggap tinggi. Menurut sejumlah saksi, situasinya memang cukup mencekam.

Kerstin Hottner, Kepala Komoditas Vontobel, memberikan analisisnya.

“Konflik militer yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS)/Israel dan Iran telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar energi global,” ujarnya.

“Selat Hormuz, jalur sempit vital bagi perdagangan energi global, secara efektif telah berhenti beroperasi akibat konflik tersebut. Seiring situasi berkembang, durasi dan intensitas konflik akan menjadi faktor kunci yang membentuk lanskap energi dalam waktu dekat,” tambah Hottner.

Secara angka, kontrak berjangka minyak mentah WTI untuk bulan terdekat naik 0,8 persen ke USD71,80 per barel. Sementara itu, Brent menguat lebih kuat, 1,1 persen, menuju USD78,59 per barel. Kenaikan ini melanjutkan momentum dari Senin (2/3) di mana kedua acuan minyak itu melesat lebih dari 6 persen. Jadi, meski pasar komoditas berapi-api, pasar saham lokal justru memilih untuk berhati-hati.

Perlu diingat, keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor. Data dan analisis ini hanya gambaran situasi hari itu.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar