Dia juga menegaskan, performa impresifnya itu bukan kerja sendiri.
Pernyataan itu sekaligus menggambarkan identitas baru Persis: bermain kolektif, tidak menggantungkan segalanya pada satu orang.
Kebangkitan Bruno ini jadi cerita menarik di paruh kedua musim. Sebelum ke Solo, ia membela Semen Padang dengan catatan biasa saja: dua gol dari sebelas laga. Statistik yang jauh dari mentereng.
Tapi sejak pindah, semuanya berubah. Dalam empat pertandingan bersama Persis, ia sudah mencatatkan tiga gol. Angka yang menunjukkan dia mulai nyambung dengan gaya bermain tim barunya. Bagi pendukung Laskar Sambernyawa, ini kabar gembira. Akhirnya ada penyerang yang benar-benar berkontribusi.
Di sisi lain, situasi di PSM Makassar justru suram. Alex Tanque, yang datang dengan beban ekspektasi besar sebagai mesin gol, belum juga menemukan bentuk terbaiknya. Padahal, Juku Eja sedang dalam situasi sulit. Performa tim fluktuatif, dan mereka butuh sekali striker yang bisa mengubah peluang sekecil apapun menjadi gol.
Dua striker Brasil, dua nasib yang berbeda. Bruno Gomes di Solo sedang naik daun, perlahan menjadi pahlawan baru. Sementara Alex Tanque di Makassar masih berjuang membuktikan diri.
Musim ini masih panjang. Dalam sepak bola, segalanya bisa berubah dalam hitungan pekan. Tapi untuk saat ini, satu hal jelas terlihat: di Stadion Manahan, Bruno Gomes sedang berubah menjadi momok yang sungguh menakutkan.
Artikel Terkait
Indonesia Gagal Bawa Pulang Gelar dari Swiss Open 2026
PSM Makassar Terancam Degradasi, Dua Laga Krusial Jadi Penentu Nasib
Alwi Farhan Gagal Juara Swiss Open, Indonesia Pulang Tanpa Gelar
Pontianak Tuan Rumah AVC Champions League 2026