Lima Tahun Perjalanan 'Pelangi di Mars', Film yang Lahir dari Belajar Teknologi dari Nol
JAKARTA Butuh waktu lama, tepatnya lima tahun, untuk akhirnya membawa "Pelangi di Mars" ke layar lebar. Proses panjang itu tak lepas dari pilihan teknologi mutakhir Extended Reality (XR) dan metode produksi hybrid yang mereka pakai. Benar-benar sebuah perjalanan yang melelahkan sekaligus mengasyikkan.
Film yang disutradarai Upie Guava ini merupakan hasil kolaborasi Mahakarya Pictures dan MBK Productions. Mereka juga mendapat sokongan dari sejumlah nama besar seperti Produksi Film Negara (PFN), RANS Entertainment, hingga DossGuavaXR Studio. Dengan dukungan segudang, proyek ini disebut-sebut sebagai produksi termahal yang pernah ditangani Mahakarya Pictures.
Ceritanya sendiri melompat jauh ke masa depan, tahun 2090. Film ini mengikuti hidup seorang anak yang tercatat sebagai manusia pertama yang lahir di Planet Mars. Sebuah premis yang ambisius, tentu saja.
Riset untuk mewujudkan dunia Mars itu sudah dimulai sejak awal 2020. Nah, untuk menciptakan latar planet merah itu secara meyakinkan, tim menggunakan teknologi Extended Reality. Mereka memproyeksikan lingkungan virtual tiga dimensi yang dibuat dengan software Unreal Engine ke sebuah layar LED raksasa di studio DossGuavaXR. Metode syuting hybrid ini menggabungkan adegan nyata dengan dunia virtual, sebuah terobosan dalam perfilman lokal.
Namun begitu, jalan menuju sana sama sekali tidak mulus.
Artikel Terkait
Pelangi di Mars, Film Fiksi Ilmiah Indonesia untuk Anak, Tayang Lebaran 2026
CAPD, Terapi Gagal Ginjal yang Lebih Fleksibel, Masih Minim Dikenal Pasien
LPDP Sesuaikan Besaran Tunjangan Hidup dengan Biaya Hidup Negara Tujuan
Atta Halilintar Ungkap Derita Eksim yang Membuatnya Takut Sinar Matahari