Pelangi di Mars Rampung Setelah Lima Tahun, Tim Belajar Teknologi XR dari Nol

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 23:50 WIB
Pelangi di Mars Rampung Setelah Lima Tahun, Tim Belajar Teknologi XR dari Nol

Lima Tahun Perjalanan 'Pelangi di Mars', Film yang Lahir dari Belajar Teknologi dari Nol

JAKARTA Butuh waktu lama, tepatnya lima tahun, untuk akhirnya membawa "Pelangi di Mars" ke layar lebar. Proses panjang itu tak lepas dari pilihan teknologi mutakhir Extended Reality (XR) dan metode produksi hybrid yang mereka pakai. Benar-benar sebuah perjalanan yang melelahkan sekaligus mengasyikkan.

Film yang disutradarai Upie Guava ini merupakan hasil kolaborasi Mahakarya Pictures dan MBK Productions. Mereka juga mendapat sokongan dari sejumlah nama besar seperti Produksi Film Negara (PFN), RANS Entertainment, hingga DossGuavaXR Studio. Dengan dukungan segudang, proyek ini disebut-sebut sebagai produksi termahal yang pernah ditangani Mahakarya Pictures.

Ceritanya sendiri melompat jauh ke masa depan, tahun 2090. Film ini mengikuti hidup seorang anak yang tercatat sebagai manusia pertama yang lahir di Planet Mars. Sebuah premis yang ambisius, tentu saja.

Riset untuk mewujudkan dunia Mars itu sudah dimulai sejak awal 2020. Nah, untuk menciptakan latar planet merah itu secara meyakinkan, tim menggunakan teknologi Extended Reality. Mereka memproyeksikan lingkungan virtual tiga dimensi yang dibuat dengan software Unreal Engine ke sebuah layar LED raksasa di studio DossGuavaXR. Metode syuting hybrid ini menggabungkan adegan nyata dengan dunia virtual, sebuah terobosan dalam perfilman lokal.

Namun begitu, jalan menuju sana sama sekali tidak mulus.

Sutradara Upie Guava mengakui, tantangan terbesarnya justru ada di awal. Tim produksi harus benar-benar memulai dari nol. Mereka bukan cuma bikin film, tapi lebih dulu membangun infrastruktur teknologinya.

“Rasanya aneh ketika akhirnya film ini selesai. Saya membayangkan perasaan saat menontonnya seperti beban lima tahun terangkat,”

Ujar Upie dalam Gala Premiere film tersebut di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

Dia melanjutkan,

“Kami harus membangun infrastrukturnya dulu, mempelajari teknologinya, membangun sistemnya dari nol.”

Persoalannya, menurut Upie, tidak ada sekolah formal yang mengajarkan teknologi spesifik seperti ini. Alhasil, tim terpaksa mencari ilmu sendiri.

Mayoritas dari mereka, sekitar 99 persen, belajar secara otodidak. Sumbernya? YouTube dan diskusi dengan praktisi serupa di luar negeri. Bayangkan, sebuah produksi film besar justru digerakkan oleh semangat belajar mandiri dari internet. Ini menunjukkan betapa timnya punya tekad yang luar biasa.

Jadi, setelah melalui proses panjang yang penuh lika-liku, "Pelangi di Mars" akhirnya tiba juga. Film ini bukan sekadar karya fiksi, tapi juga bukti nyata perjuangan sebuah tim yang berani keluar dari zona nyaman dan menaklukkan teknologi baru.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar