30 Jurnalis Ikuti Pelatihan Peliputan Konflik TNI AU, Termasuk Simulasi Tempur dan Patroli Hutan

- Senin, 15 Juni 2026 | 01:45 WIB
30 Jurnalis Ikuti Pelatihan Peliputan Konflik TNI AU, Termasuk Simulasi Tempur dan Patroli Hutan

Puluhan jurnalis dari berbagai media mengikuti pelatihan peliputan di daerah konflik yang digelar Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispen AU) pada 11 hingga 12 Juni 2026 di Brigade 1 Kopasgat, Jakarta Timur. Sebanyak 30 wartawan hadir dalam kegiatan yang tidak hanya menyajikan materi teoretis, tetapi juga simulasi pertempuran guna membekali pemahaman dan kesiapan saat bertugas di wilayah berisiko tinggi.

Kepala Subdinas Penerangan Umum Dispen AU, Kolonel Sus Yohanes Ridwan, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memberikan gambaran nyata bagi awak media yang akan meliput di daerah rawan. Menurutnya, pemahaman tentang situasi lapangan menjadi bekal penting agar jurnalis tetap dapat bekerja secara profesional meskipun berada dalam tekanan medan konflik.

"Kita dua hari ini melaksanakan workshop peliputan di daerah konflik bagi rekan-rekan media yang tujuannya adalah memberikan bekal dasar dan memberikan gambaran bagaimana saat meliput yang berada di daerah yang cukup rawan, artinya di daerah konflik," ujar Kolonel Yohanes dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).

Pada hari pertama, para peserta mendapatkan materi pembentukan kerja sama tim dan penguatan mental melalui kegiatan psikologi lapangan. Selain itu, jurnalis juga dibekali kemampuan bertahan diri dengan latihan menembak. Pelatihan ini menjadi fondasi awal sebelum para peserta memasuki simulasi yang lebih kompleks pada hari berikutnya.

Memasuki hari kedua, para jurnalis dilibatkan langsung dalam simulasi pergerakan taktis di dua medan berbeda, yakni pertempuran kota dan patroli perbatasan di hutan. Dalam skenario tersebut, peserta merasakan langsung bagaimana situasi operasi militer berlangsung, termasuk ketika harus menghadapi pihak yang bertindak sebagai musuh.

"Hari ini kita melaksanakan simulasi. Merasakan bagaimana operasi saat perang kota dan juga patroli di hutan yang disimulasikan sebagai patroli perbatasan, di mana ada yang bertindak sebagai musuh," jelas Kolonel Yohanes.

Latihan ini membekali jurnalis dengan pengetahuan tentang cara bergerak secara taktis mengikuti perintah dari komandan regu TNI apabila terjadi ancaman saat melaksanakan peliputan. Dengan demikian, para wartawan diharapkan mampu merespons situasi darurat dengan cepat dan tepat tanpa mengganggu tugas utama mereka.

Sementara itu, terkait penugasan resmi, Kolonel Yohanes menegaskan bahwa keputusan tetap berada di tangan pimpinan redaksi atau direksi masing-masing media. Namun, ia menekankan bahwa ketika ditugaskan di daerah konflik, jurnalis pasti akan berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat. Oleh karena itu, pembekalan ini diberikan agar para wartawan dapat berkolaborasi dengan petugas di lapangan tanpa merasa canggung.

"Artinya, untuk dia melaksanakan operasi, dia sudah tidak canggung lagi. Dia sudah punya pelatihan bagaimana cara berlindung, bagaimana cara bertahan hidup, dan lain sebagainya," tambah Yohanes.

Selain taktik lapangan, kegiatan ini juga memberikan pemahaman tentang standar operasional perlengkapan peliputan konflik. Selama simulasi, para jurnalis diwajibkan menggunakan atribut lengkap yang akan dipakai dalam penugasan berkolaborasi dengan TNI, mulai dari helm taktis hingga rompi antipeluru atau Kevlar. Pembekalan ini menjadi langkah konkret dalam meningkatkan keselamatan dan efektivitas kerja jurnalis di medan yang penuh risiko.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar