Komentar Dokter soal Pasien BPJS Viral, Netizen Soroti Kurangnya Empati

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:00 WIB
Komentar Dokter soal Pasien BPJS Viral, Netizen Soroti Kurangnya Empati

Nama Dokter Benny Christian Sihombing menjadi sorotan publik setelah komentarnya terhadap curhatan pasien BPJS bernama Yurizal Tri Chaerawan viral di media sosial. Perhatian itu semakin besar setelah kabar duka Yurizal yang meninggal dunia pada 31 Juli 2026 tersebar luas.

Sebelum meninggal, Yurizal sempat membagikan keluhannya melalui akun Threads pribadinya pada 22 Juli 2026. Dalam unggahan tersebut, ia mengaku harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan. "8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal.

Unggahan itu kemudian mendapat tanggapan dari akun Threads @bennychrstn pada 23 Juli 2026. Dalam komentarnya, akun tersebut menyebut kondisi penuh di rumah sakit tidak berkaitan dengan status pasien BPJS atau non-BPJS. "Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak. BPJS yg make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri," tulis akun tersebut.

Komentar itu ramai disorot warganet, terutama setelah kabar meninggalnya Yurizal mencuat. Berdasarkan informasi yang beredar, akun @benychrstn disebut milik Dokter Benny Christian Sihombing. Identitas tersebut menjadi perbincangan publik karena warganet mengaitkannya dengan profesi tenaga kesehatan. Sejumlah warganet juga menyebut Benny merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI).

Sosok Dokter Benny kemudian ramai dicari publik setelah komentarnya dinilai sebagian warganet kurang berempati terhadap keluhan seorang pasien. Berbagai kritik bermunculan di media sosial. Sejumlah warganet menilai seorang tenaga kesehatan seharusnya tetap mengedepankan empati dalam memberikan tanggapan kepada masyarakat, terutama pasien yang sedang menghadapi kondisi sulit.

"Kaget pas cek utas-utas anda sebelumnya dan anda adalah nakes (dokter), tapi ketikan anda 'kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong' tidak mencerminkan orang yang berpendidikan tinggi dan berkecimpung di dunia kesehatan," tulis salah satu warganet.

Sementara itu, akun @erudarahaadini yang diketahui bernama Elda Putri Rahardini menyampaikan permintaan maaf. Sebelumnya ia juga turut mengomentari unggahan Yurizal dengan tulisan, "Foto profilnya kayak orang punya tapi aslinya nggak punya, ya? Nggak punya sel otak." Kini setelah Yurizal dikabarkan meninggal dunia, dirinya pun langsung mengakui kesalahannya.

"Saya Elda Putri Rahardini, dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, dan penyesalan yang mendalam, ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Almarhum Yurizal, teman-teman, kerabat, serta seluruh masyarakat luas," tulisnya. Elda mengakui komentarnya tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan kurangnya empati terhadap kondisi yang sedang dialami Yurizal saat itu.

"Saya menyadari bahwa tulisan saya telah melukai hati banyak pihak, terutama di tengah situasi sulit yang saat itu sedang dihadapi oleh Almarhum saat mencari penanganan medis," ujarnya. Dalam pernyataannya, Elda juga menegaskan bahwa sebagai seorang dokter dan tenaga kesehatan, dirinya seharusnya mengedepankan nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan empati kepada siapa pun.

"Saya sangat menyesali bahwa tindakan saya sama sekali tidak mencerminkan sumpah profesi kedokteran maupun etika dan moral yang seharusnya saya junjung tinggi, baik sebagai seorang individu, alumni institusi pendidikan, maupun penerima beasiswa LPDP," tulisnya. Ia turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Yurizal serta mendoakan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Elda mengakui permintaan maaf yang disampaikannya tidak akan mampu menghapus luka dan kekecewaan yang telah ditimbulkan. Namun, ia berjanji akan menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran seumur hidup untuk menjadi pribadi dan tenaga medis yang lebih bijaksana, lebih berempati, serta menjaga tutur kata, baik di dunia nyata maupun di media sosial. "Saya juga siap menerima segala bentuk kritik, teguran, serta konsekuensi atas kelalaian dan kesalahan saya ini. Sekali lagi, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga, instansi tempat saya mengabdi, dan masyarakat luas atas kegaduhan dan luka yang telah saya perbuat," tutupnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags