MAKASSAR Ironi yang pahit sedang menyapa PSM Makassar. Di penghujung musim Liga 1 2025/2026 ini, klub yang identik dengan persaingan papan atas justru harus menoleh ke bawah. Zona degradasi perlahan tapi pasti mendekat, dan ancamannya terasa sangat nyata.
Setelah 25 pertandingan, PSM terpaku di peringkat ke-13 dengan 24 poin. Secara teknis, mereka masih di luar zona merah. Tapi coba lihat lebih dekat. Jaraknya dengan tim-tim di dasar klasemen begitu tipis, hampir tak terasa.
Madura United, yang bersemayam di peringkat 16, mengumpulkan 20 poin. Angka yang sama juga dicatat oleh Semen Padang FC di posisi 17. Persis Solo, yang berada di batas aman, punya poin serupa. Intinya, empat tim ini masih punya sisa laga yang sama: sembilan pertandingan. Perang urat saraf benar-benar dimulai.
Dengan selisih cuma empat angka, ancaman degradasi bagi PSM bukan lagi omong kosong. Itu adalah bayangan gelap yang mengintai di setiap sudut lapangan.
Lalu, skenario terburuk seperti apa yang mengintai? Cukup sederhana, sebenarnya. Pasukan Ramang bisa terperosok jika gagal meraih kemenangan di sisa musim, terutama saat berhadapan langsung dengan rival-rival yang ada di bawah mereka.
Dua laga itu akan menjadi penentu nasib.
Pertama, duel kontra Persis Solo pada 4 April 2026 nanti. Bertempat di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, ini adalah kesempatan emas untuk menjauh. Gagal di sini, maka beban di pertandingan berikutnya akan jadi dua kali lipat lebih berat.
Apalagi di pekan penutup, 23 Mei, mereka harus bertandang ke kandang Madura United. Pertarungan itu berpotensi menjadi laga hidup dan mati bagi kedua kubu. Bayangkan tensinya.
Di sisi lain, manajemen klub tentu tak tinggal diam. Menanggapi situasi pelik ini, rapat evaluasi digelar. Ahmad Amiruddin, Direktur Teknik PSM, mengungkapkan pembahasan tak cuma soal taktik.
“Kami bahas semua, termasuk aspek psikologis pemain. Soal mentalitas ini jadi masalah besar kami musim ini. Harus ada perbaikan segera,” ujar Amiruddin.
Dalam rapat itu, semua pihak sepakat untuk kembali menggenggam erat filosofi klub: Siri’ na Pacce. Semangat khas Sulawesi Selatan tentang harga diri dan pantang menyerah itu harus dihidupkan kembali. Itulah roh mereka.
Yang menarik, meski kompetisi libur menyambut Lebaran, pemain-pemain PSM memilih untuk tetap latihan. Sebuah keputusan yang tak biasa. Biasanya, masa libur dimanfaatkan untuk pulang kampung atau sekadar istirahat panjang.
Tapi tidak untuk skuad Juku Eja kali ini. Mereka memilih bertahan, berkomitmen penuh untuk memperbaiki keadaan. Itu sinyal bagus, setidaknya dari sisi kedisiplinan.
Namun begitu, semua niat baik itu harus dibuktikan di lapangan. Fakta berbicara: dalam lima laga terakhir, PSM sama sekali tak merasakan kemenangan. Empat di antaranya malah berakhir dengan kekalahan. Rentetan hasil buruk inilah yang membuat posisi mereka terus merosot dan memberi harapan pada tim-tim di bawahnya.
Jalan keluar sebenarnya masih terbuka lebar. Peluang untuk bertahan di Liga 1 masih ada, asal mereka bisa memenangi laga-laga krusial. Duel melawan Persis dan Madura United adalah momentum mutlak. Menang di sana, napas akan kembali lega. Gagal? Sembilan laga tersisa akan terasa seperti neraka.
Bagi PSM Makassar, sisa musim ini bukan cuma soal angka di klasemen. Ini lebih dari itu. Ini tentang mempertahankan marwah dan harga diri sebuah klub besar yang namanya sudah terukir lama dalam sejarah sepak bola Indonesia. Tantangan terberat mereka justru datang dari dalam.
Artikel Terkait
Persib dan PSM di Persimpangan Jalan: Satu Kejar Gelar, Satu Bertahan Hidup
Irfan Jaya Cetak Gol Penentu Kemenangan Bali United, Pilih Tak Rayakan sebagai Bentuk Hormat ke PSM Makassar
Indonesia Tersingkir dari Thomas Cup 2026 Usai Ditekuk Prancis 1-4
Atletico Madrid vs Arsenal Imbang 1-1, Dua Gol Penalti Warnai Laga Sengit di Riyadh Air Metropolitano