Serangan air keras terhadap Andrie Yunus, seorang aktivis dari KontraS, benar-benar mengguncang. Bukan hanya di dalam negeri, tapi juga menarik perhatian dunia internasional. Komunitas global memandang kejadian ini dengan mata yang sangat serius.
Di sisi lain, reaksi datang dari markas PBB di Jenewa. Volker Türk, sang Komisaris Tinggi HAM, tak tinggal diam. Melalui akun resmi UN Human Rights di platform X, ia menyampaikan kecamannya. Kecaman yang keras dan tanpa tedeng aling-aling.
“Sangat prihatin atas serangan air keras yang mengerikan terhadap Andrie Yunus,”
Begitu bunyi pernyataan singkatnya. Namun, pesan di baliknya terasa sangat berat.
Bagi Türk, ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Serangan terhadap pembela HAM seperti ini dilihatnya sebagai ancaman langsung. Ancaman terhadap kebebasan sipil, dan pada akhirnya, terhadap fondasi demokrasi itu sendiri. Ia mendesak agar pelaku segera diusut tuntas dan dihadapkan pada meja hijau.
“Mereka yang bertanggung jawab atas tindakan kekerasan pengecut ini harus dimintai pertanggungjawaban,”
tegasnya lagi. Poinnya jelas: negara wajib memberikan perlindungan. Aktivis seperti Yunus, yang kerja sehari-harinya memperjuangkan keadilan untuk orang lain, harus bisa bekerja tanpa dibayangi ketakutan. “Tanpa rasa takut,” itu kata kuncinya.
Lalu, bagaimana kronologi kejadiannya?
Menurut sejumlah saksi, malam itu, Kamis (12/3/2026), Andrie baru saja menghadiri sebuah diskusi. Temanya cukup berat: “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”, yang digelar di kantor YLBHI. Perjalanan pulangnya ternyata tidak aman.
Di kawasan Salemba, Jakarta, malapetaka itu terjadi. Seseorang menyiramkan air keras ke tubuhnya. Korban langsung dilarikan. Hasil pemeriksaan medis menyebutkan, sekitar 24 persen permukaan tubuhnya mengalami luka bakar. Cukup parah.
Saat ini, Andrie Yunus masih terbaring di RSCM. Ia menjalani perawatan intensif, sementara kecaman dari Volker Türk dan banyak pihak lainnya terus bergema, menunggu tindakan nyata.
Artikel Terkait
PSG Vs Bayern Munich di Semifinal Liga Champions, Laga Final Dini yang Diprediksi Ketat
Tiga Sipir Lapas Blitar Diduga Jual Beli Kamar Sel Khusus hingga Rp100 Juta per Napi
Tim Uber Indonesia Kunci Juara Grup C Usai Comeback Dramatis Lawan Chinese Taipei
Polda Papua Bongkar Praktik Ilegal BBM Subsidi di Merauke, Negara Rugi Hingga Rp197 Juta