Namun begitu, ceritanya tidak berhenti di situ.
Oknum yang sama kemudian terlihat mengikuti tim wasit. Ia membuntuti mereka menuju ruang ganti. Di depan pintu ruangan, situasi kembali memanas. Beberapa saksi menyebut pria itu menggedor-gedor pintu dengan keras, diselingi umpatan dan ancaman yang ditujukan kepada para wasit di dalam.
Merespons hal itu, wasit memilih bertahan di dalam ruangan. Mereka takut konflik bisa meluas jika keluar.
Akibatnya, mereka terpaksa mengurung diri hampir 90 menit setelah laga selesai. Baru sekitar pukul 00.20 WIT, dengan pengawalan aparat kepolisian dan steward yang memastikan kondisi aman, mereka bisa keluar dengan selamat. Area stadion pun disterilkan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Insiden semacam ini seharusnya jadi alarm keras. Keamanan pertandingan sepak bola ternyata tidak cuma soal mengawasi suporter di tribun. Ancaman bisa datang dari orang-orang yang justru seharusnya berada di lingkaran resmi pertandingan.
Intimidasi terhadap wartawan dan wasit adalah tamparan bagi prinsip olahraga yang sehat. Bagi sepak bola Indonesia, ini pengingat pahit. Operator liga, federasi, dan panitia penyelenggara harus lebih ketat lagi mengawasi situasi di dalam stadion.
Karena sepak bola bukan cuma angka di papan skor. Ada integritas, keselamatan, dan kebebasan pers yang harus dijaga. Itulah fondasi ekosistem olahraga yang sesungguhnya.
Artikel Terkait
PWI Ternate Kecam Intimidasi Wartawan di Laga Malut United vs PSM
Persebaya Dibantai Borneo FC 1-5, Isu Rekrut Ramadhan Sananta Menguat
PSM Makassar Bangkit dari Ketertinggalan, Imbang 3-3 Lawan Malut United
Wasit FIFA Jadi Sasaran Pukulan Suporter Usai Laga Seru Malut United vs PSM