Suasana di Stadion Gelora Kie Raha, Sabtu (7/3) malam, sebenarnya belum benar-benar reda. Peluit panjang sudah dibunyikan, tapi ketegangan dari laga Malut United kontra PSM Makassar malah merembet ke luar lapangan. Yang terjadi setelahnya justru lebih mencemaskan, menyentuh soal keamanan dan profesionalisme di BRI Super League.
Menurut laporan, sejumlah wartawan yang bertugas meliput malah mendapat intimidasi. Pelakunya diduga seorang official tim Malut United. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 23.05 WIT, tak lama setelah pertandingan berakhir.
Salah satu yang merasakan adalah Irwan Djailani, atau yang akrab disapa Bradex, reporter RRI Ternate. Saat itu, ia sedang melakukan tugas rutinnya: mendokumentasikan perangkat pertandingan yang meninggalkan lapangan.
Tiba-tiba, seorang pria mendekat. Nada suaranya tidak ramah.
"Kamu wartawan, kamu harus hapus video itu," teriak pria itu, sambil berusaha menarik perhatian suporter di sekitarnya.
Permintaannya agar rekaman video dihapus sama sekali tidak persuasif. Malah terkesan memaksa. Situasi di sekitar tribun media pun langsung berubah, menjadi tegang dan tidak nyaman. Beberapa wartawan lain yang ada di lokasi merasa kerja jurnalistik mereka dihalangi dengan cara yang kasar.
Masih belum puas, pria yang sama juga meminta steward untuk mengusir para jurnalis dari tribun media. Padahal, mereka semua membawa ID Card resmi liga yang menjamin hak mereka untuk meliput. Tindakan ini, bagi banyak yang melihat, jelas melampaui batas. Ini soal profesionalisme, dan itu dilanggar.
Artikel Terkait
PWI Ternate Kecam Intimidasi Wartawan di Laga Malut United vs PSM
Persebaya Dibantai Borneo FC 1-5, Isu Rekrut Ramadhan Sananta Menguat
PSM Makassar Bangkit dari Ketertinggalan, Imbang 3-3 Lawan Malut United
Wasit FIFA Jadi Sasaran Pukulan Suporter Usai Laga Seru Malut United vs PSM