Mendikdasmen Dukung Aturan Batasi Gawai untuk Anak di Bawah 16 Tahun

- Minggu, 08 Maret 2026 | 16:00 WIB
Mendikdasmen Dukung Aturan Batasi Gawai untuk Anak di Bawah 16 Tahun

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, angkat bicara soal aturan baru yang membatasi penggunaan gawai untuk anak di bawah 16 tahun. Ia menyambut baik terbitnya Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 itu. Menurutnya, langkah ini patut diapresiasi.

“Jadi kami sangat mendukung dan memberikan apresiasi terhadap terbitnya Peraturan Menteri Komdigi tentang pembatasan penggunaan gawai untuk mereka yang berusia di bawah 16 tahun,” ujar Mu’ti, Minggu (8/3/2026).

Aturan ini bukan muncul tiba-tiba. Ia merupakan turunan dari kebijakan perlindungan anak di ruang digital yang dikenal sebagai Peraturan Pemerintah TUNAS. Di sisi lain, Mu’ti melihat ini sebagai bukti sinergi antar kementerian. Tujuannya jelas: membentuk kebiasaan sehat anak-anak dalam berinteraksi dengan teknologi.

Niat Baik dan Tantangan di Lapangan

Mu’ti menjelaskan, inti dari kebijakan ini adalah proteksi. Melindungi anak dari risiko kecanduan akibat penggunaan gawai yang berlebihan. Dengan pembatasan, diharapkan anak punya lebih banyak waktu untuk aktivitas lain yang lebih menyehatkan.

Namun begitu, ia tak menampik manfaat positif gawai. Terutama sebagai penunjang belajar dan akses materi pendidikan daring. Persoalannya, kata dia, terletak pada eksekusi aturan ini nanti.

Tantangan teknis pasti ada. Salah satu yang paling krusial adalah mencegah pemalsuan identitas oleh anak di bawah umur saat mendaftar akun media sosial.

“Memang tantangannya adalah pada teknis pelaksanaan terutama untuk memastikan bahwa mereka ini tidak memalsukan identitas pribadi ketika membuat akun di media sosial,” ujarnya.

Kunci Utama: Peran Orang Dewasa

Di sinilah, menurut Mu’ti, peran orang tua dan guru menjadi kunci. Aturan pemerintah saja tak akan cukup tanpa pengawasan aktif dari lingkungan terdekat anak. Edukasi ke masyarakat luas tentang penggunaan gawai yang bijak juga mutlak diperlukan.

Mu’ti menekankan, pengawasan itu termasuk memastikan batas usia minimum di platform digital benar-benar ditaati. Harapannya, upaya bersama ini bisa membentengi anak dari dampak buruk teknologi.

“Kami berharap ini menyelamatkan generasi muda dari penyalahgunaan gawai dan juga internet yang tidak edukatif dan tidak sesuai dengan budaya dan peradaban bangsa,” pungkasnya.

Pada akhirnya, semua sepakat bahwa anak perlu dilindungi. Tapi jalan menuju ke sana ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh komitmen dari banyak pihak.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar