Percakapan kedua pemimpin itu terjadi cuma sehari setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata sementara untuk dua minggu. Tujuannya mulia: menghentikan perang yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran sejak akhir Februari. Namun, di hari yang sama tepatnya Rabu tentara Israel justru melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran di seluruh wilayah Libanon.
Akibatnya parah. Data dari Pertahanan Sipil Libanon mencatat korban jiwa mencapai sedikitnya 254 orang. Sementara yang luka-luka lebih dari seribu, tepatnya 1.165 orang. Situasi ini jelas bertolak belakang dengan semangat gencatan senjata yang baru saja diumumkan.
Lalu di mana masalahnya? Rupanya, ada perbedaan interpretasi yang tajam soal wilayah yang tercakup dalam kesepakatan. Pejabat Iran dan Pakistan bersikeras bahwa Libanon masuk dalam lingkup perjanjian. Sementara Israel bersikukuh sebaliknya Libanon bukan bagian dari kesepakatan itu.
Perbedaan pandangan ini, tentu saja, mengundang kekhawatiran. Apalagi konflik yang sudah memanas ini berpotensi melebar dan menggagalkan upaya diplomasi yang sudah dibangun.
Konteks Global: Upaya gencatan senjata ini merupakan bagian dari tekanan internasional terhadap eskalasi militer yang melibatkan Iran, Israel, dan proksinya, yang telah mengganggu stabilitas keamanan dan ekonomi global sejak awal tahun 2026.
Artikel Terkait
Rusia, AS, dan Tiongkok Pimpin Perlombaan Teknologi Rudal Balistik Antarbenua
Jessica Iskandar Alami Gejala Hepatitis A Diduga dari Makanan yang Diolah Asisten Rumah Tangga
Rakyat Iran Berkabung 40 Hari Gugurnya Ayatollah Khamenei di Tengah Gencatan Senjata
Unpad Buka 3.868 Kursi Jalur Mandiri 2026, Tanpa Kenaikan UKT