Meski Bank Dunia baru saja memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia, pemerintah justru bersikap lebih optimis. Kementerian Keuangan yakin, angka 5,5 persen pada 2026 bisa dicapai. Keyakinan ini tak lepas dari catatan kinerja di tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Nathan Kacaribu, estimasi Bank Dunia kerap kali lebih rendah dari realisasi yang akhirnya terjadi. Ia memberi contoh nyata.
"Pada 2025, Bank Dunia memprediksi kita cuma tumbuh 4,8 persen. Faktanya? Kita berhasil mencapai 5,11 persen," ujarnya dalam sebuah pertemuan di Kantor Bakom RI, Kamis lalu.
"Jadi enggak apa-apa. Malah kita senang ada pihak seperti World Bank dan investor lain yang terus memantau perekonomian kita. Dan kita bisa buktikan kinerja yang baik. Itu kabar bagus buat investor," tambah Febrio.
Optimisme itu punya dasar. Struktur ekonomi domestik terlihat menguat, dengan sektor pertanian jadi bintang baru. Pertumbuhannya melesat di atas 5 persen tahun lalu lompatan signifikan dari tren sebelumnya yang kerap di bawah 2 persen.
Febrio menyoroti arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat belanja di sektor ini. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebutnya memberi dampak riil, mendongkrak permintaan hasil tani.
"Tenaga kerja di sektor pertanian sekitar 40 juta. Sektor yang sangat vital, tapi selama ini tumbuhnya lambat. Sekarang panen langsung naik. Untuk beras, pertumbuhannya di atas 13-14 persen tahun lalu. MBG meningkatkan permintaan produk pertanian secara signifikan," jelasnya.
Artikel Terkait
Pegadaian dan SMBC Jepang Jalin Kerja Sama Pendanaan untuk Ultra Mikro dan UMKM
KainIndonesia.co Sulap Wastra Nusantara Jadi Fesyen Modern, Didukung LinkUMKM BRI
Kejati DKI Geledah Kantor KemenPU, Menteri Dody Buka Akses Penuh
Mediasi Kasus Pandji Pragiwaksono Berjalan Santai dan Sejuk di Polda Metro Jaya