Pemerintah Pertahankan Target Pertumbuhan 5,5% Meski Bank Dunia Pangkas Proyeksi

- Kamis, 09 April 2026 | 17:45 WIB
Pemerintah Pertahankan Target Pertumbuhan 5,5% Meski Bank Dunia Pangkas Proyeksi

Di tengah gejolak geopolitik yang mendorong harga minyak naik-turun, pemerintah justru bersikap optimis. Target pertumbuhan ekonomi tahun ini, kata mereka, tetap bisa digapai di angka 5,5 persen. Angka ini jelas lebih tinggi dari proyeksi terbaru Bank Dunia yang memangkas ramalan untuk Indonesia menjadi hanya 4,7 persen.

Menanggapi hal itu, Febrio Kacaribu, Dirjen Strategi dan Ekonomi Fiskal Kemenkeu, tak terlalu khawatir. Menurutnya, proyeksi Bank Dunia itu wajar-wajar saja. "World Bank selalu memantau perekonomian kita," ujarnya. "Tetapi, estimasi mereka jelas jauh dari di bawah kita. Dan tahun lalu ingat enggak mereka bilang 4,8 (persen) kita jatuhnya 5,1 (persen). Jadi enggak apa-apa."

Pernyataan itu disampaikan Febrio di Auditorium Bakom RI, Jakarta Pusat, Kamis (9/4/2026). Ia melihat sisi positif dari prediksi yang lebih rendah itu. Justru bisa jadi sinyal untuk meyakinkan investor, sekaligus memastikan arus modal masuk ke Indonesia dengan lebih cepat.

Lantas, bagaimana cara mencapai target 5,5 persen itu? Kuncinya, kata Febrio, adalah menjaga defisit APBN agar tak melonjak jauh, tetap di kisaran 2,9 persen. Optimisme itu ditopang oleh kontribusi beberapa sektor kunci. Konsumsi rumah tangga masih jadi penopang utama, menyumbang sekitar 50 persen. Belanja pemerintah diharapkan tumbuh 8-9 persen, disusul investasi sekitar 30 persen, dan ekspor di angka 25 persen.

Namun begitu, pemerintah tak bisa hanya mengandalkan itu. Transformasi struktural di sektor-sektor fundamental mutlak diperlukan. Ambil contoh sektor pertanian, yang mampu menyerap tenaga kerja hingga 40 juta orang. Febrio mencatat, pertumbuhan sektor ini cukup menggembirakan.

"Pertumbuhan sektor pertanian itu di atas lima persen dan lebih penting lagi pertumbuhan sektor tanaman pangan itu di atas sembilan persen," paparnya. "Jadi memang terjadi perubahan struktur dari perekonomian."

Perubahan itu didorong oleh eksekusi kebijakan yang terukur. Mulai dari penguatan belanja, ketersediaan pupuk sejak awal tahun, peningkatan volume panen beras yang mencapai 13-14 persen, hingga tingginya serapan produk karena program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di sisi lain, ada kabar baik dari sektor manufaktur. Sektor ini, yang biasanya tertahan di bawah lima persen, tercatat tumbuh hingga 5,4 persen. Fakta ini, bagi Febrio, menunjukkan betapa dinamisnya perekonomian nasional saat ini. Semua bergerak, meskipun angin kencang dari luar terus menerpa.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar