Jakarta. KAI Logistik baru saja mengantongi Sertifikat Halal untuk layanan pengirimannya. Kali ini, sertifikasi menyasar segmen retail, tepatnya untuk layanan KALOG Express. Tiga titik distribusi dengan arus barang padat yang pertama kali mendapatkannya: Service Point KALOG Express Jakarta Gudang, Semarang Poncol, dan Surabaya Kota.
Menurut Direktur Utama KAI Logistik, Yuskal Setiawan, langkah ini bukan cuma formalitas. Ini adalah upaya nyata mendongkrak standar layanan retail, dengan fokus utama pada keamanan produk sejak dari gudang hingga ke tangan konsumen. Di tengah persaingan industri yang kian ketat, sertifikasi ini diharap bisa memberi kepastian, baik secara hukum maupun operasional, bagi para pemilik barang.
“Sertifikasi ini bukan sekadar pemenuhan aspek administratif, melainkan sebuah komitmen mendalam untuk membangun kepercayaan pasar yang lebih kuat, terutama bagi sektor-sektor sensitif yang mengandalkan integritas proses distribusi dalam menjaga kualitas produk mereka secara menyeluruh,”
Yuskal menegaskan hal itu dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/4/2026).
Sebenarnya, ini bukan hal baru bagi perusahaan. Sebelumnya, mereka sudah menerapkan sertifikasi halal untuk layanan kontainer di beberapa terminal seperti Sungai Lagoa dan Kalimas. Nah, sekarang perluasannya sampai ke pengiriman barang kecil-kecil tapi volumenya besar. Sesuai roadmap yang sudah disusun.
(Ilustrasi KAI Logistik. Foto: Dok istimewa)Dukungan untuk UMKM
Lalu, apa artinya buat pelaku usaha? Terutama UMKM. Dengan tenggat wajib halal Oktober 2026 yang kian dekat, kehadiran layanan ini bisa jadi solusi. KAI Logistik berperan memastikan rantai distribusi bukan jadi titik lemah yang bikin usaha kecil gagal memenuhi standar pemerintah.
Secara teknis, sertifikat bernomor ID00410018283070424 itu resmi keluar pada 11 Maret 2026. Prosesnya tentu tidak instan. Audit ketat oleh Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) PT Sucofindo digelar akhir Februari lalu. Mereka memeriksa segalanya: penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH), prosedur penanganan bahan, sampai fasilitas pencucian di layanan retail. Intinya, semua dicek biar operasional di lapangan benar-benar sesuai aturan.
Di lapangan, standarnya ketat. Pemisahan mutlak dilakukan untuk mencegah kontaminasi silang dengan barang reguler atau kiriman hewan. Caranya? Setiap paket halal dapat label khusus. Barang-barang itu lalu dikelompokkan eksklusif di area penyimpanan tertentu.
“Ini memungkinkan untuk dikelompokkan secara eksklusif di area penyimpanan tertentu. Barang-barang tersebut ditempatkan di atas palet beralas terpal bersih dan dilindungi dengan penutup terpal tambahan untuk menjaga sterilitas produk selama masa transit maupun dalam perjalanan,”
jelas Yuskal lagi.
Pemilihan Jakarta, Semarang, dan Surabaya sebagai pilot project pun punya alasan. Aktivitas distribusi di ketiga kota itu sangat tinggi, dan mereka adalah simpul logistik utama di Pulau Jawa. Dengan layanan halal di titik-titik strategis ini, harapannya bisa turut mendorong geliat ekonomi syariah di sekitarnya.
Ke depan, rencananya akan ada evaluasi dan perluasan jangkauan ke titik distribusi lain. Visinya jelas: menghadirkan layanan logistik yang tak cuma tepat waktu dan efisien, tapi juga terjamin kualitasnya sampai ke ujung rantai.
Artikel Terkait
Pentagon Ajak GM dan Ford Dongkrak Produksi Persenjataan
Indonesia Tanggapi Usulan Filipina Soal Cadangan Minyak Bersama ASEAN
Mantan Suami Ditangkap Kurang dari Sehari Usai Diduga Bunuh Mantan Istri di Serpong
Pertamina Siap Produksi Komersial Bioavtur dari Jelantah Maret 2026