Presiden Iran Masoud Pezeshkian punya satu pesan tegas: serangan Israel ke Libanon harus berhenti. Titik. Ini bukan sekadar permintaan, melainkan syarat mutlak yang diajukan Teheran dalam draf kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Demikian ditegaskannya dalam percakapan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Rabu lalu. Menurutnya, tanpa penghentian agresi itu, stabilitas kawasan Timur Tengah bakal sulit tercapai.
“Penghentian serangan Israel di Libanon termasuk di antara 10 syarat yang dilampirkan pada perjanjian dengan Washington,” ujar Pezeshkian, seperti dikutip dari kantor berita Anadolu, Kamis (9/4/2026).
Dalam pembicaraan itu, Pezeshkian juga menyoroti peran Prancis. Dia melihat Paris punya posisi strategis, mengingat keterlibatannya sebagai penjamin gencatan senjata sebelumnya di Lebanon. Keterlibatan pihak internasional semacam itu, katanya, penting agar kesepakatan benar-benar dihormati semua pihak.
Iran sendiri, menurut Pezeshkian, telah menunjukkan sikap bertanggung jawab dengan menerima usulan gencatan senjata. Langkah ini disebutnya sebagai bukti niat baik Teheran untuk mendorong perdamaian.
Tapi di lapangan, ceritanya lain sama sekali.
Artikel Terkait
Rusia, AS, dan Tiongkok Pimpin Perlombaan Teknologi Rudal Balistik Antarbenua
Jessica Iskandar Alami Gejala Hepatitis A Diduga dari Makanan yang Diolah Asisten Rumah Tangga
Rakyat Iran Berkabung 40 Hari Gugurnya Ayatollah Khamenei di Tengah Gencatan Senjata
Unpad Buka 3.868 Kursi Jalur Mandiri 2026, Tanpa Kenaikan UKT