Langit Teheran tampak kelabu, Kamis pagi itu. Tapi itu tak mengurungkan niat jutaan orang yang membanjiri jalanan. Mereka berkumpul, berduka, mengenang 40 hari kemartiran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Tak cuma di ibu kota, prosesi serupa menggulir di ratusan kota lain di seluruh Iran. Semua untuk satu nama: sang Pemimpin Revolusi Islam yang tewas dalam serangan yang mereka sebut sebagai aksi teror AS dan Israel.
Ribuan pasang kaki berarak dari Lapangan Jomhouri menuju lokasi sang Ayatollah gugur. Suasana hening sesekali pecah oleh teriakan slogan. Menurut laporan Press TV, upacara yang berlangsung hingga malam ini diisi pidato-pidato penghormatan. Mereka mengenang almarhum, sekaligus menyatakan kesetiaan pada cita-citanya yang ditinggalkan.
“Kemartiran Ayatollah Khamenei sama efektifnya dengan kehadirannya sepanjang hidupnya dalam mempromosikan Revolusi Islam dan Republik Islam,” begitu bunyi pernyataan resmi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang dirilis Kamis ini.
Pernyataan itu juga menyoroti perlawanan sengit rakyat Iran. Mereka menyebut serangan balasan angkatan bersenjata dan mundurnya musuh sebagai “berkah darah murni” sang Pemimpin.
Artikel Terkait
Hasil Uji Coba Buruk, Kinerja Pelatih Timnas U-17 Kurniawan Dwi Yulianto Dipertanyakan
Ledakan Guncang Gedung Padel dan SD di Bogor, Tak Ada Korban Jiwa
Kapolda Riau dan Polisi Malaysia Perkuat Kerja Sama Hadapi Narkoba dan Radikalisasi Online
Rusia, AS, dan Tiongkok Pimpin Perlombaan Teknologi Rudal Balistik Antarbenua