Langit Teheran tampak kelabu, Kamis pagi itu. Tapi itu tak mengurungkan niat jutaan orang yang membanjiri jalanan. Mereka berkumpul, berduka, mengenang 40 hari kemartiran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Tak cuma di ibu kota, prosesi serupa menggulir di ratusan kota lain di seluruh Iran. Semua untuk satu nama: sang Pemimpin Revolusi Islam yang tewas dalam serangan yang mereka sebut sebagai aksi teror AS dan Israel.
Ribuan pasang kaki berarak dari Lapangan Jomhouri menuju lokasi sang Ayatollah gugur. Suasana hening sesekali pecah oleh teriakan slogan. Menurut laporan Press TV, upacara yang berlangsung hingga malam ini diisi pidato-pidato penghormatan. Mereka mengenang almarhum, sekaligus menyatakan kesetiaan pada cita-citanya yang ditinggalkan.
“Kemartiran Ayatollah Khamenei sama efektifnya dengan kehadirannya sepanjang hidupnya dalam mempromosikan Revolusi Islam dan Republik Islam,” begitu bunyi pernyataan resmi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang dirilis Kamis ini.
Pernyataan itu juga menyoroti perlawanan sengit rakyat Iran. Mereka menyebut serangan balasan angkatan bersenjata dan mundurnya musuh sebagai “berkah darah murni” sang Pemimpin.
Memang, rentetan peristiwa berdarah ini berawal dari serangan tanggal 28 Februari lalu. Saat itu, Ali Khamenei tewas bersama beberapa anggota keluarganya. Itu adalah hari pertama agresi militer yang digencarkan AS dan Israel. Sasaran mereka bukan cuma figur pemimpin. Infrastruktur sipil dan fasilitas energi ikut dihajar. Korban berjatuhan, ratusan nyawa melayang.
Di antara serangan paling memilukan adalah yang menimpa sebuah sekolah dasar di Minab. Lebih dari 170 orang tewas. Sebagian besar adalah anak-anak. Sebuah tragedi yang meninggalkan luka mendalam bagi bangsa.
Namun begitu, Iran tak tinggal diam. Balasan datang bertubi-tubi. Serangan rudal dan drone dilancarkan ke wilayah pendudukan Israel serta aset AS di kawasan. Gelombang serangan balasan itu konon mencapai 100 kali. Situasi mulai mereda setelah melalui mediasi Pakistan. Pada Rabu lalu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) mengumumkan gencatan senjata dua minggu. Ini terjadi setelah AS menerima proposal 10 poin dari Tehran.
Kini, di tengah gencatan yang rentan, rakyat Iran mengenang pemimpin mereka. Menurut pernyataan IRGC, pemikiran, wacana, hingga kepemimpinan Ayatollah Khamenei di bidang perlawanan dan keadilan telah membentuk sistem komprehensif untuk memerintah negara. Warisan itulah yang kini mereka pegang, sambil menatap hari-hari yang tak pasti di depan.
Artikel Terkait
Bareskrim Gagalkan Penyelundupan Puluhan Ton Bawang di Pontianak
Ratusan Kapal Nelayan Cirebon Menganggur Akut Akibat Kelangkaan Solar
Petugas Jakarta Barat Dapat Apresiasi Rp 25 Ribu per Kg dan Jalan ke Ancol Atas Penangkapan Ikan Sapu-Sapu
Polisi Bongkar Peredaran Tramadol dan Hexymer Berkedok Toko Ikan Cupang di Petojo