Bakrie Sumatera Plantations Catat Penjualan Rp2,56 Triliun dan Lonjakan Laba Operasi 86% pada 2025

- Kamis, 09 April 2026 | 16:40 WIB
Bakrie Sumatera Plantations Catat Penjualan Rp2,56 Triliun dan Lonjakan Laba Operasi 86% pada 2025

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) baru saja merilis laporan kinerjanya untuk tahun 2025. Hasilnya cukup menggembirakan. Nilai penjualan emiten perkebunan di bawah naungan Bakrie Group ini berhasil menyentuh angka Rp2,56 triliun.

Angka itu menunjukkan pertumbuhan sekitar 10 persen jika dibandingkan dengan realisasi penjualan di tahun 2024, yang tercatat sebesar Rp2,32 triliun. Jadi, ada tren positif yang berhasil dipertahankan.

Dalam keterangan resminya pada Rabu (8/4/2026), Direktur Utama UNSP, Bayu Irianto, membeberkan sumber pendapatan tersebut.

"Kinerja penjualan ditopang dari komoditas sawit yang menghasilkan Rp2,41 triliun, dan lalu komoditas karet yang sebesar Rp151 miliar,"

Menariknya, dari perolehan penjualan yang segitu, perusahaan berhasil menyisihkan laba kotor sebesar Rp757 miliar. Pertumbuhannya bahkan lebih tinggi, yakni sekitar 25 persen dibanding tahun sebelumnya. Yang lebih dramatis adalah lonjakan laba operasi, yang melesat hingga 86 persen menjadi Rp388 miliar. Nilai EBITDA juga ikut naik, tercatat Rp551 miliar atau tumbuh 48 persen.

Lalu, apa yang mendorong kinerja ini? Menurut Bayu, ada kombinasi faktor. Di satu sisi, ada peningkatan harga komoditas sawit dunia. Harga CPO (Crude Palm Oil) rata-rata bulanan di Rotterdam naik dari USD1.082 per ton di 2024 menjadi USD1.221 per ton di 2025. Di sisi lain, perseroan tak tinggal diam. Mereka gencar meningkatkan produktivitas aset kebun, salah satunya lewat program peremajaan dengan bibit unggul.

Tak hanya mengandalkan kebun sendiri, UNSP juga melakukan pembelian buah sawit dari petani mandiri. Strategi ini punya dua manfaat sekaligus: mengoptimalisasi kinerja pabrik dan membantu kesejahteraan petani di sekitar.

Soal keberlanjutan, Bayu menegaskan komitmen perusahaan.

"Perseroan senantiasa mengikuti protokol Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan," ujarnya.

Kebijakan zero-burning atau tanpa membakar dalam kegiatan perkebunan adalah salah satu implementasinya. Mereka juga berfokus pada aspek people & planet, mulai dari mensejahterakan petani, menerapkan prinsip zero-waste, hingga komitmen no-deforestation untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Kunci lain yang terus digarap adalah inovasi bibit. Saat ini, produktivitas sawit nasional rata-rata masih sekitar tiga ton CPO per hektar per tahun. UNSP mengklaim bibit unggul mereka punya potensi jauh lebih besar. Dengan program peremajaan, produktivitas bisa melonjak.

"Produktivitas bibit unggul Perseroan bisa menghasilkan 10 ton CPO per hektare per tahun," jelas Bayu.

Angka itu didapat dari produksi 40 ton buah sawit per hektar per tahun dengan tingkat ekstraksi CPO 25 persen, berdasarkan hasil lapangan bibit bersertifikasi mereka. Artinya, tanpa menambah luas lahan, produksi CPO bisa berlipat ganda. Imbasnya, pasokan bahan baku untuk biodiesel nasional juga ikut terdongkrak.

Bayu melihat hal ini sebagai strategi jangka panjang.

"Bibit unggul dan program peremajaan sawit rakyat adalah kunci kesejahteraan petani dan produktivitas sawit yang berkelanjutan," tegasnya.

Ke depan, UNSP akan tetap fokus pada peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, serta melakukan perbaikan struktur permodalan. Optimisme pun mengemuka.

"Kami optimistis, dalam jangka menengah dan panjang Perseroan akan kembali bangkit menemukan momentum terbaik sebagai perusahaan perkebunan dengan fundamental bisnis yang kuat," pungkas Bayu.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar