Musim kemarau ternyata sudah mulai menyapa beberapa daerah di Indonesia. Menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga akhir Maret 2026, sejumlah wilayah sudah masuk fase kering. Nanti, pada bulan April, Mei, dan Juni, sebagian besar wilayah lain di Tanah Air baru akan menyusul.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, membeberkan daftar daerah yang sudah lebih dulu merasakan kemarau. Wilayah-wilayah itu tersebar dari ujung barat hingga timur.
Di Aceh dan Sumatera Utara, ada sebagian kecil yang sudah kering. Begitu pula di Riau. Lalu, beberapa bagian di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara juga mengalami hal serupa.
Tak ketinggalan, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua Barat pun sudah masuk musim kemarau.
Faisal menegaskan komitmen BMKG untuk terus memantau perkembangan iklim. "BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala," ujarnya di Jakarta, Minggu (5/4).
Ia pun mengimbau masyarakat. "Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia."
Sementara itu, ada isu lain yang patut diwaspadai. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebutkan adanya peluang El Niño berkembang di semester kedua tahun ini. Saat ini, kondisi ENSO dan IOD memang masih netral. Tapi, model iklim yang mereka miliki menunjukkan kemungkinan pergeseran ke fase El Niño.
"Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%," jelas Ardhasena.
Meski begitu, ia menyisipkan catatan. Kemungkinan fenomena ini menguat jadi kategori kuat terbilang kecil, kurang dari 20%.
Kemarau Lebih Panjang dan Lebih Kering
Namun begitu, BMKG mengingatkan untuk berhati-hati membaca prediksi saat ini. Ada yang namanya "spring predictability barrier", di mana akurasi prediksi cuaca untuk ENSO cenderung turun drastis saat musim semi di belahan Bumi utara (Maret-Mei). Jadi, prediksi yang dibuat sekarang baru bisa diandalkan untuk tiga bulan ke depan. Makanya, pemantauan berkelanjutan mutlak diperlukan.
Nanti, prediksi yang dirilis pada Mei 2026 diharapkan punya tingkat kepercayaan lebih tinggi. Prediksi bulan Mei itu secara statistik lebih andal untuk menjangkau kondisi hingga enam bulan ke depan.
Ardhasena memberikan penekanan khusus. "Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya," tegasnya.
Ini, menurutnya, juga dipengaruhi variabilitas iklim alamiah di Indonesia.
Puncaknya Diprediksi Agustus
Lalu, kapan puncak kekeringan terjadi? Berdasarkan rilis resmi BMKG bertajuk "Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia", Agustus 2026 akan menjadi bulan puncaknya bagi sebagian besar wilayah.
Rilis itu juga memuat sejumlah poin penting lainnya. Awal musim kemarau diprediksi datang lebih awal atau maju di hampir setengah wilayah Indonesia. Curah hujan selama periode kemarau pun diprediksi lebih rendah dari biasanya alias lebih kering.
Yang perlu disiapkan, sebagian besar wilayah juga akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal. Jadi, bukan cuma soal kekeringan, tapi juga durasinya yang akan berlangsung lama.
Intinya, persiapan menghadapi musim kemarau tahun depan perlu dimulai dari sekarang. Informasi dari BMKG ini bisa jadi panduan.
Artikel Terkait
Jasad Wanita Dibuang dari Atas Tol BORR ke Jalan Raya Bogor, Pelaku Ditangkap Usai Kecelakaan
Polisi Tangkap Tiga Pelaku Pembacokan Dua Remaja di Flyover Cibodas Tangerang
Anggota DPR Desak PLN Evaluasi Total Pascablackout Listrik Massal di Sumatra Utara
Trump Yakin Kesepakatan dengan Iran Segera Tercapai, Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali