30 Ribu Hektare Tambak Aceh Hancur Diterjang Banjir, Puluhan Ribu Pembudidaya Terpukul

- Senin, 12 Januari 2026 | 03:25 WIB
30 Ribu Hektare Tambak Aceh Hancur Diterjang Banjir, Puluhan Ribu Pembudidaya Terpukul

Banjir besar yang melanda Aceh beberapa waktu lalu ternyata meninggalkan luka yang dalam bagi sektor perikanan. Kerusakannya masif. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru saja merilis data yang mencengangkan: sekitar 30 ribu hektare tambak budidaya teridentifikasi rusak.

Tingkat kerusakannya beragam, dari yang ringan sampai parah banget. Akibatnya, lebih dari 30 ribu pembudidaya ikan dan udang harus menelan pil pahit kerugian.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebutkan angka itu saat blusukan ke lokasi bencana. “Tidak hanya di Pidie Jaya, yang dilaporkan seluruh Aceh ada sekitar 30 ribu hektare,” ungkap Zulhas, Jumat lalu.

Ia meninjau langsung kerusakan di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Bersama Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono, kunjungan juga dilakukan ke kabupaten lain yang porak-poranda, yaitu Bireun dan Aceh Utara.

Nah, kalau dirinci, wilayah terdampak itu tersebar di 16 kabupaten dan kota se-Aceh. Yang paling parah? Aceh Utara. Di sana, lebih dari 10 ribu hektare tambak hancur. Posisi kedua dan ketiga ditempati Bireun (4,9 ribu hektare) dan Aceh Tamiang (3,4 ribu hektare).

Trenggono memberi gambaran yang lebih jelas. “Kami sudah melakukan identifikasi. Tambak terdampak yang rusaknya sangat berat ada sekitar 300an hektare, sisanya didominasi kerusakan ringan hingga berat,” jelasnya.

Tambak-tambak yang hancur itu, baik yang di darat maupun di pesisir, membudidayakan beragam komoditas. Mulai dari udang, bandeng, kakap, kerapu, sampai lele, nila, mas, dan patin. Semua ikut menjadi korban.

Bencana ini bermula dari banjir bandang disertai longsor yang menyapu hampir seluruh Aceh pada November lalu. Kekuatannya luar biasa. Beberapa lokasi tambak bahkan rata dengan tanah, terkubur lumpur tebal yang dibawa arus banjir.

Kini, yang tersisa adalah tumpukan kerugian dan pekerjaan rumah besar untuk pemulihan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar