Namun begitu, BMKG mengingatkan untuk berhati-hati membaca prediksi saat ini. Ada yang namanya "spring predictability barrier", di mana akurasi prediksi cuaca untuk ENSO cenderung turun drastis saat musim semi di belahan Bumi utara (Maret-Mei). Jadi, prediksi yang dibuat sekarang baru bisa diandalkan untuk tiga bulan ke depan. Makanya, pemantauan berkelanjutan mutlak diperlukan.
Nanti, prediksi yang dirilis pada Mei 2026 diharapkan punya tingkat kepercayaan lebih tinggi. Prediksi bulan Mei itu secara statistik lebih andal untuk menjangkau kondisi hingga enam bulan ke depan.
Ardhasena memberikan penekanan khusus. "Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya," tegasnya.
Ini, menurutnya, juga dipengaruhi variabilitas iklim alamiah di Indonesia.
Puncaknya Diprediksi Agustus
Lalu, kapan puncak kekeringan terjadi? Berdasarkan rilis resmi BMKG bertajuk "Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia", Agustus 2026 akan menjadi bulan puncaknya bagi sebagian besar wilayah.
Rilis itu juga memuat sejumlah poin penting lainnya. Awal musim kemarau diprediksi datang lebih awal atau maju di hampir setengah wilayah Indonesia. Curah hujan selama periode kemarau pun diprediksi lebih rendah dari biasanya alias lebih kering.
Yang perlu disiapkan, sebagian besar wilayah juga akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal. Jadi, bukan cuma soal kekeringan, tapi juga durasinya yang akan berlangsung lama.
Intinya, persiapan menghadapi musim kemarau tahun depan perlu dimulai dari sekarang. Informasi dari BMKG ini bisa jadi panduan.
Artikel Terkait
Pekanbaru Wajibkan ASN Pilah dan Olah Sampah Rumah Tangga
Perempat Final Liga Champions 2026: Duel Raksasa Madrid-Bayern dan Derbi Catalan Jadi Sorotan
Menteri Keuangan Pastikan Harga BBM Bersubsidi Tak Naik Sampai Akhir 2026
AS Selamatkan Awak F-15 yang Jatuh di Iran Lewat Operasi Rahasia Berisiko Tinggi