Studi Ungkap Konsumsi Makanan Ultra-Proses Tingkatkan Risiko Patah Tulang Panggul

- Jumat, 03 April 2026 | 17:15 WIB
Studi Ungkap Konsumsi Makanan Ultra-Proses Tingkatkan Risiko Patah Tulang Panggul

Kalau sering jajan makanan ultra-proses, waspada saja. Risiko gangguan kesehatan bisa meningkat, dan yang terbaru, kesehatan tulang kita juga ikut terancam. Sebuah studi di The British Journal of Nutrition baru-baru ini mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan: orang yang banyak mengonsumsi Ultra-Processed Food (UPF) ternyata punya risiko lebih besar mengalami masalah pada tulang.

Menurut laporan Healthline, masalahnya beragam. Mulai dari kepadatan mineral tulang yang lebih rendah, hingga risiko patah tulang panggul yang lebih tinggi. Yang menarik, temuan ini tak hanya berlaku untuk lansia. Orang dewasa muda di bawah 65 tahun, bahkan mereka yang bertubuh kurus, juga menunjukkan tren yang sama.

“Kelompok dalam studi ini kami ikuti selama lebih dari 12 tahun,” jelas Lu Qi, MD, PhD, salah satu penulis studi yang juga profesor di Tulane University.

“Kami menemukan bahwa asupan tinggi makanan ultra-proses berkaitan dengan penurunan kepadatan mineral tulang di beberapa titik kritis, seperti area femur atas dan tulang belakang lumbal,” tambahnya.

Dari Soda hingga Makanan Beku: Ancaman Nyata bagi Tulang

Data CDC menyebutkan, makanan ultra-proses kini menyumbang lebih dari separuh kalori harian anak-anak dan orang dewasa. Nah, untuk mengupas dampaknya pada tulang, para peneliti menganalisis data dari lebih dari 160.000 peserta di UK Biobank. Rata-rata, partisipan mengonsumsi sekitar 8 porsi UPF per hari.

Hasilnya cukup mencengangkan. Untuk setiap tambahan 3,7 porsi makanan ultra-proses yang dikonsumsi setiap hari, risiko patah tulang panggul melonjak 10,5 persen. Sebagai gambaran, 3,7 porsi itu bisa berupa satu paket makan malam beku, sekaleng soda, dan sepotong kue kering. Cukup mudah terkumpul dalam sehari, bukan?

Grace Derocha, ahli diet dan juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics, menganggap temuan ini serius dan patut diperhatikan.

“Peningkatan risiko sebesar 10,5 persen itu sangat signifikan,” katanya. Dia tidak terlibat dalam studi tersebut.

“Apalagi mengingat betapa kritisnya patah tulang panggul bagi mobilitas dan kemandirian seseorang, terutama pada orang dewasa yang lebih tua,” imbuhnya.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar