Di sisi lain, Dana Hunnes, ahli diet klinis senior di UCLA Health, mencoba menerka mekanisme di balik hubungan ini. Peradangan dalam tubuh diduga jadi salah satu pemicu. Selain itu, pola makan tinggi UPF seringkali minim nutrisi penting seperti kalsium, fosfor, dan vitamin D yang vital untuk tulang kuat.
“Tanpa nutrisi yang cukup, kepadatan tulang bisa melemah,” jelas Hunnes.
“Bisa juga orang jadi kurang aktif. Kurangnya aktivitas fisik tentu mengurangi kekuatan tulang, karena tidak ada tekanan atau kompresi yang merangsang kepadatannya. Semua faktor ini mungkin saling berkaitan,” tuturnya.
Tak Cuma Lansia, Kaum Muda dan yang Kurus Juga Rawan
Yang mengejutkan, hubungan antara UPF dan kepadatan tulang ini justru paling jelas terlihat pada dua kelompok: orang di bawah 65 tahun dan mereka dengan Indeks Massa Tubuh (BMI) rendah, di bawah 18,5. Kok bisa?
Para penulis studi menduga, pada orang muda, sistem pencernaan yang masih prima justru bisa menyerap bahan-bahan tidak sehat dari UPF dengan lebih efisien. Sementara pada orang dengan BMI rendah, yang sudah rentan punya masalah tulang, dampak buruk UPF ini jadi semakin memperparah kondisinya.
Studi ini seolah mengonfirmasi serangkaian penelitian sebelumnya yang mulai menyoroti korelasi antara diet tidak sehat dan kesehatan tulang.
“Diet tinggi makanan ultra-proses bisa menyebabkan asupan nutrisi yang minim dan tingkat peradangan yang tinggi,” pungkas Derocha.
“Kedua hal itu, dalam jangka panjang, berdampak buruk bagi tulang.”
Intinya, ini bukan alarm untuk panik, tapi cukup jadi alasan kuat untuk mulai lebih memerhatikan apa yang kita santap setiap hari.
Artikel Terkait
Hujan dan Angin Kencang di Bandung Tewaskan Satu Orang, 33 Pohon Tumbang
Tiga Dapur Makanan Bergizi Gratis di Kaimana Ditutup Sementara Gara-gara IPAL Tak Standar
Sistem Kesehatan Lebanon Selatan Kolaps di Tengah Serangan Israel
Sari Roti Ekspansi ke Industri Pakan Ternak, Manfaatkan Roti Sisa Produksi