Menteri Luar Negeri Taiwan Tuding Aktivitas Militer China Sebagai Provokasi

- Minggu, 15 Februari 2026 | 22:30 WIB
Menteri Luar Negeri Taiwan Tuding Aktivitas Militer China Sebagai Provokasi

Dua Narasi yang Bertolak Belakang

Di sisi lain, China memiliki argumentasi sejarahnya sendiri. Pemerintah di Beijing berpendapat bahwa Taiwan telah dikembalikan ke China pasca Perang Dunia II pada 1945. Oleh karena itu, setiap upaya yang dianggap memisahkan Taiwan dilihat sebagai tantangan terhadap tatanan internasional pascaperang dan kedaulatan China. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, sebelumnya telah memperingatkan adanya upaya-upaya pemisahan tersebut dari pihak luar.

Taiwan dengan tegas membantah narasi ini. Pemerintah di Taipei berargumen bahwa kedaulatan atas pulau itu diserahkan kepada Republik China, entitas yang berbeda dengan Republik Rakyat China yang berkuasa di daratan. Mereka menegaskan bahwa masa depan Taiwan harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri, sebuah prinsip yang menjadi fondasi kebijakan mereka.

Lebih dari Sekadar Sengketa Lintas Selat

Pertukaran pernyataan yang saling bertentangan ini bukanlah hal baru, namun tetap berpotensi memicu eskalasi. Isu Taiwan telah lama melampaui batas sengketa bilateral, menjelma menjadi titik panas geopolitik yang sensitif. Posisinya yang strategis di jalur pelayaran global membuat ketegangan di Selat Taiwan menjadi perhatian banyak negara, dengan implikasi yang dapat memengaruhi stabilitas keamanan regional bahkan internasional. Situasi ini menuntut kehati-hatian dan diplomasi yang intens dari semua pihak yang terlibat.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar