TVRINews, Jakarta
Duka mendalam disampaikan Kedubes Palestina di Jakarta, menyusul tragedi yang merenggut nyawa pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon.
Lewat sebuah pernyataan resmi, Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia menyuarakan kepedihan mereka. Tiga prajurit TNI, yang sedang bertugas dalam misi perdamaian PBB, dilaporkan gugur. Rasa duka itu ditujukan langsung kepada Presiden, pemerintah, dan tentu saja, seluruh rakyat Indonesia.
Menurut sejumlah laporan, insiden memilukan ini terjadi di tengah situasi yang memanas. Militer Israel melancarkan serangan udara masif di Lebanon Selatan. Sayangnya, markas pasukan UNIFIL tempat kontingen Indonesia bertugas ikut menjadi sasaran dalam operasi militer tersebut.
"Kedutaan Besar Negara Palestina untuk Indonesia mengecam keras serangan udara terhadap markas pasukan perdamaian Indonesia yang dilakukan oleh penjajah Israel.
Serangan ini mengakibatkan gugurnya tiga pahlawan mulia yang menjadi kebanggaan kami dan seluruh masyarakat merdeka di dunia," begitu bunyi pernyataan tertulis yang dikeluarkan pada Kamis, 2 April 2026.
Tak sekadar belasungkawa, pernyataan itu juga menegaskan solidaritas yang mengakar antara Palestina dan Indonesia. Mereka memandang pengorbanan prajurit TNI sebagai bukti nyata dari peran kemanusiaan Indonesia di panggung dunia. Sebuah peran yang sangat terhormat.
"Pengorbanannya akan selalu dikenang sebagai bentuk penghormatan. Kami menegaskan bahwa kita adalah satu bangsa, dan kekuatan kami terletak pada kebersamaan dalam membela tujuan bersama serta menegakkan keadilan," lanjut rilis tersebut.
Doa dan dukungan moral juga disampaikan untuk keluarga korban, agar diberi ketabahan. Dari Ramallah, pesan solidaritas serupa mengalir, sebagai bentuk penghormatan bagi mereka yang gugur demi perdamaian.
Klaim yang Berbeda dan Tuntutan Indonesia
Namun begitu, narasi dari pihak Israel sama sekali berbeda. Mereka mengklaim operasi di Lebanon adalah tindakan defensif, untuk menangkal ancaman roket dari Hizbullah.
Soal insiden di markas UNIFIL, Israel punya dalih lain. Di forum PBB, mereka menyebut gugurnya prajurit Indonesia disebabkan kegagalan teknis persenjataan milik Hizbullah yang ada di sekitar lokasi. Klaim sepihak, begitu kira-kira.
Pemerintah Indonesia tentu saja menolak narasi itu. Jakarta bersikukuh mendesak penyelidikan independen yang transparan. Fakta lapangan harus terungkap objektif. Dan yang tak kalah penting: pertanggungjawaban hukum internasional atas serangan terhadap penjaga perdamaian harus ditegakkan.
Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Pengemudi BYD Denza di Tangerang Ditilang Usai Modifikasi Pelat Nomor Mirip Kendaraan Pejabat
KRL Duri–Tangerang Mogok, Dua Perjalanan Dibatalkan, KAI Commuter Lakukan Investigasi
Razman Arif Nasution Siap Jalani Vonis 1,5 Tahun Penjara Usai Kasasi Ditolak MA
Sapi Kurban Lepas di Klaten Dievakuasi Pakai Derek, Warga Sempat Panik