Pasar saham Indonesia babak belur di sesi pertama perdagangan Kamis (2/4/2026). IHSG ambles lebih dari satu persen, ikut arus sentimen negatif yang melanda kawasan Asia. Pemicunya? Lagi-lagi, ketegangan di Timur Tengah yang tiba-tiba memanas kembali.
Data dari BEI menunjukkan indeks komposit merosot 1,25% ke posisi 7.094,53. Kerusakannya cukup luas: 463 saham terkapar, hanya 234 yang mampu bertahan di zona hijau, sementara 261 lainnya diam di tempat. Kalau dilihat dari pergerakan yang lebih panjang, kondisinya makin suram. Dalam sepekan, IHSG sudah anjlok 2,84%. Bahkan, dalam sebulan terakhir, koreksinya mencapai hampir 14 persen. Tekanan jual datang dari mana-mana, terutama dari saham-saham raksasa seperti Barito, Bakrie, Merdeka, dan perbankan besar yang serentak memerah.
Lalu, apa yang bikin pasar ciut nyali? Semuanya berawal dari pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut laporan Dow Jones Newswires, dalam sebuah pidato, Trump memberi sinyal serangan militer lanjutan ke Iran. Dia menyebut operasi itu sebagai "investasi masa depan" bagi rakyat AS, dan memprediksi konflik bisa berakhir dalam sebulan meski ancaman eskalasi tetap menggantung.
"AS akan menyerang Iran secara keras dalam dua hingga tiga pekan ke depan," ujarnya.
Pernyataan itu langsung memukul pasar. Sentimen de-eskalasi yang sempat muncul sebelumnya seolah dibatalkan begitu saja. Analis Westpac menilai ancaman serangan final yang lebih tegas kini kembali ke permukaan. Akibatnya, bursa-bursa Asia langsung berbalik arah. Nikkei Jepang jatuh 2,3%, Kospi Korea Selatan bahkan terpental 4,4%, dan Hang Seng Hong Kong ikut merosot.
Efek domino-nya jelas terlihat pada harga komoditas. Minyak yang sempat melunuh di bawah USD100 per barel, tiba-tiba melonjak lagi. WTI naik 4,5% ke level USD104,61, sementara Brent menguat lebih ganas, 5,4% ke USD106,60. Kenaikan harga energi ini tentu bikin investor khawatir. Mereka takut pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan bakal terhambat.
Beberapa analis mulai memberi peringatan. Nomura, misalnya, menyarankan ekstra hati-hati untuk saham India. Untuk Indonesia dan Filipina, risikonya juga meningkat, meski dianggap lebih ringan. Di sisi lain, pasar seperti Malaysia, Hong Kong, dan China dinilai punya daya tahan yang sedikit lebih baik.
BRI Danareksa melihat situasi ini menciptakan sinyal campuran. Ketidakpastian arah konflik dan pergerakan pasar ke depan jadi makin tinggi. Tidak ada yang benar-benar bisa memprediksi ujungnya.
Menariknya, saat minyak melonjak, logam mulia justru ikut terpuruk. Emas spot turun 1,6%, perak bahkan anjlok 3,8%. Dolar AS menguat terhadap mata uang Asia, mencerminkan sikap hati-hati yang mendalam di kalangan pelaku pasar.
Tekanan itu ternyata belum berakhir. Prakiraan untuk pasar AS juga suram: kontrak berjangka S&P 500, Nasdaq, dan Dow semuanya bergerak negatif, mengisyaratkan bahwa tekanan global kemungkinan masih akan berlanjut di sesi-sesi mendatang. Suasana pasar benar-benar gamang.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
NRCA Bagikan Dividen Rp99,8 Miliar, Setara Rp40 per Saham
Ancal Bidik 100 Ribu Wisatawan Selama Libur Panjang Iduladha
BRI Salurkan 5.000 Lebih Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia saat Idul Adha
BEI Pindahkan GOTO dan BELI ke Papan Pengembangan, 26 Saham Naik Kelas ke Papan Utama