Usai menyampaikan komitmennya terhadap budaya lokal, Gubernur kemudian beralih ke sebuah topik yang kerap mewarnai obrolan warung kopi di Jakarta: Persija. Dengan nada terbuka, Pramono mengakui bahwa dirinya sering dikritik karena dianggap terlalu banyak menyita perhatian pada klub sepak bola ibukota tersebut. Namun, ia tampak tak terlalu mempermasalahkan kritik itu, justru menunjukkan sisi personalnya sebagai seorang pendukung fanatik.
"Bahkan saya sekarang ini dikritik dianggap Gubernur terlalu ngurusin Persija. Ya masa saya ngurus yang lain? Ya pasti Persija saya urusin," ucapnya dengan nada setengah bergurau. Rasa cintanya itu ternyata berimbas langsung pada kesehariannya. "Kemarin kalah 2-0 lawan Arema aja enggak bisa tidur saya," lanjutnya, menggambarkan betapa dalamnya keterikatan emosionalnya dengan hasil pertandingan Persija.
Gurauan dengan Ketua The Jakmania
Kekalahan Persija 0-2 dari Arema FC dalam lanjutan Super League 2025-2026 itu rupanya meninggalkan kesan mendalam. Pramono bahkan bercerita tentang interaksinya dengan pimpunan suporter terbesar Persija, The Jakmania. Dalam gurauan yang penuh keluguan, ia mengaku merasakan sedikit rasa kesal saat harus berjumpa dengan sang ketua umum setelah timnya tumbang.
"Saya kalau udah kalah Persija ketemu Diky Ketua Jakmania aduh sebal banget itu," tuturnya, melukiskan dinamika hubungan unik antara seorang gubernur yang juga pendukung dengan pemimpin massa suporter. Ungkapan spontan ini semakin mengukuhkan citranya sebagai pemimpin yang tidak hanya menjalankan tugas formal, tetapi juga hidup bersama dengan denyut nadi dan emosi warganya, termasuk dalam hal sepak bola.
Artikel Terkait
Polres Rokan Hulu Intensifkan Patroli dan Bagi Sembako untuk Cegah Karhutla
Kedubes Palestina Kecam Serangan Israel yang Tewaskan Tiga Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon
KPK Periksa Lima Saksi Swasta Terkait Dugaan Penyamaran Aset Mantan Kajari
Kebakaran SPBE di Bekasi Lukai 15 Orang, Dua Korban Luka Bakar 90 Persen