"Cukup sudah... Tidak ada lagi fantasi tentang aneksasi," tegas Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen lewat Facebook Minggu lalu, menanggapi kembali mencuatnya wacana akuisisi dari Trump.
Di sisi lain, keinginan Trump atas Greenland bukan hal baru. Dia kerap berargumen soal kekayaan mineral pulau itu, yang vital untuk aplikasi militer canggih. Ambisinya lebih luas lagi: agar seluruh Belahan Bumi Barat berada di bawah pengaruh Washington.
Pembicaraan internal soal cara merebut Greenland sebenarnya sudah berlangsung sejak sebelum masa jabatan kedua Trump. Tapi, momentumnya seperti mendapat angin baru. Pemicunya? Operasi militer AS yang berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, awal Januari lalu. Menurut salah satu sumber, para ajudan di Gedung Putih ingin memanfaatkan momentum keberhasilan itu untuk mendorong tujuan geopolitik lainnya.
Meski demikian, realitas di lapangan mungkin tak semudah itu. Jajak pendapat menunjukkan, meski banyak warga Greenland yang terbuka untuk memisahkan diri dari Denmark, mayoritas justru tak ingin bergabung dengan AS. Tawaran miliaran rupiah itu, sepertinya, belum tentu bisa membeli hati mereka.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Soroti Luka Gereja: Pintu Tak Boleh Tertutup bagi Korban
Ahli Geologi Turun Tangan Selidiki Lubang Ajaib di Sawah Pombatan
Banjir Setinggi Pinggang Rendam Tiga Desa di Probolinggo
Asap Mesin Penghancur Batu Tewaskan Empat Penambang di Badakhshan