Kejadian tragis kembali menimpa para pekerja tambang di Afghanistan utara. Empat orang penambang tewas di lokasi penggalian batu permata. Penyebabnya diduga kuat adalah sesak napas. Mereka terpapar asap tebal yang keluar dari mesin penghancur batu di dalam terowongan.
Menurut sejumlah saksi, insiden ini sudah terjadi pada hari Jumat lalu, 9 Januari, waktu setempat. Lokasinya tepatnya di Distrik Khash, Provinsi Badakhshan.
Ehsanullah Kamgar, juru bicara kepolisian setempat, mengonfirmasi kabar duka ini.
"Empat pekerja di sebuah tambang meninggal dunia," ujarnya kepada AFP, Minggu (11/1/2026).
Ia menambahkan, para korban saat itu sedang berusaha mencari batu mulia di kedalaman tanah. "Mereka meninggal karena sesak napas yang disebabkan oleh asap yang dikeluarkan dari mesin penghancur batu," jelas Kamgar.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak berwenang mengenai status operasional tambang tersebut. Apakah legal atau justru ilegal. Pertanyaan dari AFP soal itu masih menggantung.
Nyawa seolah menjadi taruhan yang murah di banyak lokasi tambang Afghanistan. Kecelakaan fatal seperti ini bukan barang langka. Faktanya, para penambang seringkali harus bekerja dengan peralatan seadanya. Perlengkapan keselamatan? Itu barang mewah yang jarang terlihat.
Ingat saja pada Juli tahun lalu, di provinsi Baghlan bagian utara. Enam penambang tewas dan belasan lainnya luka-luka akibat runtuhnya tambang batu bara. Miris.
Padahal, negeri dengan lanskap berbatu ini sebenarnya menyimpan kekayaan yang luar biasa. Marmer, emas, batu mulia, batubara, semua ada. Bahkan, menurut penilaian AS dan PBB sekitar tahun 2010 hingga 2013, sumber daya alam Afghanistan termasuk tembaga dan lithium yang jadi incaran dunia diperkirakan bernilai fantastis: mencapai satu triliun dolar.
Namun begitu, di balik potensi kekayaan yang terkubur itu, yang sering muncul ke permukaan justru berita-berita pilu seperti ini. Kisah tentang nyawa yang melayang di kegelapan terowongan, jauh dari sorotan.
Artikel Terkait
Warga Tangerang Siram Air Bekas Lap Kotoran Anjing ke Jalan, Ketua RW: Konflik Sudah Berlangsung Sejak 2021
172 Jemaah Haji Khusus ESQ Tours Tiba di Tanah Air pada Gelombang Pertama Kepulangan
Repsol Gelar Touring Eksplorasi ke Situs Prasejarah Leang-Leang dan Taman Nasional Bantimurung
Rano Karno Tinjau Kebakaran Kemayoran, 679 Jiwa Terdampak dan 304 Bangunan Ludes