Masalah sampah di Tangerang Selatan sepertinya tak kunjung menemui ujung pangkal. Status darurat yang sudah ditetapkan pun terpaksa diperpanjang. Sementara itu, upaya pengalihan sampah ke wilayah tetangga ibarat bola pingpong, dilempar ke sana-sini tanpa kepastian.
Sejak pertengahan Desember tahun lalu, tumpukan sampah di sejumlah sudut kota masih menggunung. Pengangkutan ke tempat pembuangan akhir tak berjalan lancar. Solusi darurat? Cukup dengan menutupi gunungan sampah itu menggunakan terpal biru.
Di sisi lain, Wali Kota Benyamin Davnie sudah terlebih dahulu menyampaikan permintaan maaf. Itu terjadi pada 16 Desember 2025, menyusul protes warga soal tumpukan sampah di sekitar flyover Ciputat.
Begitu penjelasan Benyamin di hadapan wartawan. Dia mengakui, penutupan dengan terpal hanyalah langkah sementara. Fokusnya, kata dia, adalah menata pengelolaan sampah di hilir dan memastikan flyover Ciputat tidak kembali jadi tempat pembuangan liar.
"Saya ingin menegaskan bahwa penutupan dengan terpal dan penyemprotan antibau hanya bersifat sementara untuk mengurangi bau dan dampak lingkungan. Dalam jangka pendek, sampah di lokasi tersebut saat ini sudah dilakukan pengangkutan secara bertahap," tegasnya.
Darurat Berkepanjangan
Namun begitu, kondisi tak kunjung membaik. Akhirnya, Pemkot menetapkan status tanggap darurat pengelolaan sampah mulai 23 Desember hingga 5 Januari 2026. Keputusan itu tertuang dalam surat wali kota bernomor panjang.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Soroti Luka Gereja: Pintu Tak Boleh Tertutup bagi Korban
Ahli Geologi Turun Tangan Selidiki Lubang Ajaib di Sawah Pombatan
Banjir Setinggi Pinggang Rendam Tiga Desa di Probolinggo
Asap Mesin Penghancur Batu Tewaskan Empat Penambang di Badakhshan