Ingatan dan kehidupan itu selalu berkelindan. Setiap hal yang kita alami, sadar atau tidak, pasti meninggalkan bekas dalam memori. Nah, sastra seringkali jadi tempat yang pas untuk merekam dan menghidupkan kembali jejak-jejak itu. Lewat cerita pendek, misalnya, pengarang bisa menyuguhkan pengalaman pribadi maupun sosial dalam bentuk kisah yang terasa akrab.
Dan dari sekian banyak ingatan, kenangan tentang keluarga terutama sosok seorang ibu sering muncul dan menginspirasi karya. Ibu tak selalu harus digambarkan dengan cara yang muluk-muluk. Hal-hal kecil seperti masakan rumah, suasana dapur, atau ritual sehari-hari justru bisa membuka ruang ingatan yang luas. Ruang itu terus tumbuh, bahkan saat kehadiran fisiknya sudah tiada.
Memori Kolektif: Bukan Cuma Soal Masa Lalu
Sebenarnya, orang sudah memikirkan soal memori sejak zaman Yunani kuno. Tapi kalau dilihat dari perspektif sosial, gagasan ini baru benar-benar mengemuka di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Seorang pemikir bernama Halbwachs (1925) punya pandangan menarik. Ia bilang memori kolektif itu tidak sepenuhnya lahir dari masa lalu. Justru, ia terus dibentuk oleh pengalaman masa kini, sehingga sifatnya tidak pernah benar-benar tetap.
Di sisi lain, memori kolektif ini juga menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Ia baru bermakna bagi seseorang setelah diolah secara personal. Ingatan kita kan memang tidak pernah utuh. Karena itulah, aktivitas mengingat selalu melibatkan relasi sosial (Hartanti & Lukman, 2024).
Hal ini tampak jelas dalam dua cerpen: Semangkuk Perpisahan di Meja Makan karya Miranda Seftiana dan Lidah Masakan Ibu karya Edwin. Memori tentang ibu dihadirkan lewat gambaran yang sederhana. Kenangan manis yang sama-sama dibingkai dalam masakan ibu itu menghadirkan rasa rindu, kasih sayang, sekaligus rasa kehilangan. Lewat masakan, kenangan pribadi itu berubah menjadi media memori kolektif.
Bagaimana Memori Kolektif Diwujudkan?
Menurut Maurice Halbwachs (dalam Hartanti & Lukman, 2024), memori kolektif butuh perantara. Ia diwujudkan lewat berbagai media sosial, seperti gambar ingatan, bahasa, rekonstruksi masa lalu, pelokalan ingatan, dan tentu saja, ingatan keluarga. Media-media inilah yang memungkinkan sebuah kenangan tidak hanya hidup dalam diri satu orang, tapi juga bertahan dan diwariskan dalam suatu kelompok.
Pertama, soal Gambar dan Ingatan. Dalam cerpen Miranda Seftiana, gambar ingatan dibangun dengan sadar lewat proses memasak bersama ibu dan anak. Aktivitas di dapur itu direkam dengan detail, menciptakan potret mental yang kuat.
Sementara di cerpen Edwin, gambaran ingatan muncul lewat Yudhis yang sedang memasak. Ini seperti memori individual yang dibalut bayangan masa kecilnya bersama mamak. Saat ia mengaduk bumbu, yang terlihat bukan cuma masakan, tapi juga sosok ibu di dapur rumah lama.
Kedua, peran Bahasa. Bahasa punya andil besar membuat memori bersifat kolektif. Dalam Semangkuk Perpisahan di Meja Makan, dialog antara ibu dan anak berfungsi sebagai sarana mewariskan nilai. Nasihat ibu tentang hidup, mati, dan peran perempuan mengubah aktivitas memasak jadi sesuatu yang lebih dalam. Ia bukan lagi pekerjaan domestik belaka, tapi memori yang punya makna bersama.
Di cerpen Edwin, bahasa berperan lewat penamaan. Coba lihat nama warung "Lidah Masakan Ibu". Itu adalah bentuk verbal yang mengukuhkan ingatan tentang ibu sebagai milik bersama. Bukan cuma milik Yudhis. Dengan begitu, memori itu mendapat pengakuan sosial dan jadi bagian dari identitas keluarga.
Lalu, ada Rekonstruksi Masa Lalu. Ini unsur penting dalam membentuk memori kolektif. Dalam cerpen Miranda Seftiana, rekonstruksinya bersifat antisipatif. Sang ibu dengan sadar menciptakan memori yang nantinya akan diingat dan dibangun ulang oleh anaknya setelah ia tiada. Memori itu jadi semacam bekal emosional.
Sedangkan dalam Lidah Masakan Ibu, tokoh Yudhis terus-menerus merekonstruksi masa kecilnya lewat pengulangan resep. Masa lalu dihidupkan kembali, disesuaikan dengan kondisi sekarang, tidak dibiarkan statis.
“Mustahil ia meminta Mamak mengajarinya dalam semalam. Ia bukan Roro Jonggrang yang meminta Bandung Bondowoso mengajarinya seribu resep dalam semalam. Tapi, waktu Mamak masih hidup, Yudhis selalu suka memantau gerak-geriknya di dapur. Betapa ia mencintai dapur, seperti mencintai mamaknya sendiri.”
Keempat, Pelokalan Ingatan. Ini tampak jelas di kedua cerpen melalui ruang domestik. Dapur dan masakan rumah berfungsi sebagai ruang simbolik tempat ingatan keluarga dilokalkan. Meski anggota keluarga mungkin hidup di alam yang berbeda, ruang itu tetap menjadi pusat memori bersama yang bisa diakses dengan cara masing-masing.
Terakhir, Ingatan Keluarga. Kedua cerpen ini menunjukkan bahwa ingatan keluarga adalah inti dari segalanya. Dalam Semangkuk Perpisahan di Meja Makan dan Lidah Masakan Ibu, kenangan tentang sosok ibu sengaja dibentuk dan diwariskan. Medium utamanya? Ya, masakan. Dari situlah segalanya berawal dan bertahan.
Artikel Terkait
Dinas Peternakan Bone Perketat Pengawasan Hewan Kurban Jelang Idul Adha
Remaja 17 Tahun Ditahan Usai Bawa Kabur Pelajar Perempuan Selama Tiga Bulan
Nottingham Forest Kandaskan Porto, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Aston Villa Hancurkan Bologna 4-0, Lolos ke Semifinal Liga Europa