Suasana di Teheran malam itu masih tegang. Demonstrasi belum juga mereda. Di Lapangan Punak, Sabtu (10/1) malam, kerumunan massa kembali berkumpul, melanjutkan aksi protes yang sepertinya tak kunjung padam.
Menurut laporan AFP, para demonstran terlihat menyalakan kembang api. Suara dentuman dan percikan cahaya memecah kegelapan. Tak hanya itu, mereka juga memukul-mukul benda di sekitarnya, sebuah ekspresi kemarahan yang nyaring terdengar. Padahal, langkah represif pemerintah sudah jelas: internet dipadamkan dan penindasan terhadap massa terus digencarkan. Tapi aksi ini justru menunjukkan, upaya itu belum sepenuhnya berhasil meredam gejolak.
Ada hal lain yang menarik perhatian. Dalam sebuah video yang telah diverifikasi AFP, teriakan-teriakan dukungan untuk rezim Pahlavi bergema di antara kerumunan.
Rezim Pahlavi sendiri adalah dinasti monarki yang pernah berkuasa. Mereka memimpin Iran dalam bentuk kerajaan dari tahun 1925. Kekuasaan mereka berakhir pada 1979, digulingkan oleh Revolusi Islam yang kemudian membentuk wajah Iran seperti sekarang ini.
Seruan dukungan itu mungkin tak lepas dari pernyataan Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir yang kini hidup di pengasingan di AS. Dia sebelumnya mendorong para demonstran untuk merebut kota-kota besar di Iran.
Di sisi lain, akar kemarahan ini sebenarnya lebih dalam. Demonstrasi besar-besaran ini dipicu oleh krisis ekonomi yang mencekik dan biaya hidup yang melambung tinggi. Nilai mata uang rial yang terus merosot jadi salah satu pemicu utamanya, menyulut kekecewaan yang sudah lama menumpuk di jalanan.
Artikel Terkait
Raffi Ahmad Penuhi Amanah Terakhir Jupe, Bantu Ibunda yang Terpuruk Ekonomi
Ketua Ombudsman RI Ditahan sebagai Tersangka Kasus Korupsi Nikel
Unhas Tanggapi Laporan Pungli Terhadap Pengusaha Rental Papan Ucapan di Area Kampus
Warga Jemur Gabah di Badan Jalan Bypass Mamminasata, Lalu Lintas Tetap Ramai