Keputusan ini menepis usulan yang sempat muncul dari Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, mengenai dua opsi penyelesaian utang. Utang proyek Whoosh sendiri mencapai sekitar Rp116 triliun, sebagian besar berasal dari pinjaman China Development Bank.
Meski demikian, Menkeu mengaku belum menerima komunikasi resmi dari manajemen Danantara terkait permintaan pembiayaan utang Whoosh yang melibatkan APBN.
Dua Opsi yang Ditawarkan Danantara
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, sebelumnya mengungkapkan dua opsi untuk memperkuat keberlanjutan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Opsi pertama adalah suntikan modal untuk menambah ekuitas, mengingat pinjaman proyek Whoosh sangat besar dibandingkan nilai ekuitas.
Opsi kedua adalah menyerahkan sebagian aset infrastruktur kepada pemerintah sebagaimana pola industri kereta api lainnya. Danantara berkomitmen menjaga operasional KCIC yang kini melayani 20.000-30.000 penumpang per hari.
Pemerintah tengah menyiapkan sejumlah alternatif, termasuk kemungkinan menjadikan sebagian infrastruktur KCIC sebagai aset negara dengan skema Badan Layanan Umum (BLU).
Sumber: korankota
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 3,05%, Analis Soroti Support Kunci yang Jebol
Mentan Amran Gelar Ramadan Tanpa Sekat, Bagikan Bantuan ke 500 Penerima
DPR Dorong Sekolah Siapkan Guru Hadapi Pembatasan Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Kapolri Buka Posko Pengaduan Khusus Kasus Penyiraman Aktivis KontraS