Minggu siang (15/3/2026) di kediamannya yang berada di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan, Jusuf Kalla tampak serius mendengarkan. Mantan Wakil Presiden itu sedang menggelar pertemuan terbatas dengan sejumlah guru besar, peneliti, dan praktisi. Topiknya berat tapi krusial: kondisi fiskal daerah dan ancaman defisit anggaran yang melanda banyak wilayah.
Pertemuan itu bukan sekadar temu biasa. Menurut JK, tujuannya jelas: mencari jalan keluar dari persoalan defisit yang membelit banyak daerah. Ia menegaskan, kemajuan Indonesia secara keseluruhan mustahil tercapai jika daerah-daerah tertinggal. "Struktur negara kita kan bertumpu pada kekuatan pemerintahan daerah," ujarnya usai diskusi. Intinya, fiskal daerah yang sehat adalah pondasi utama.
Tanpa perhatian serius pada kondisi keuangan lokal, roda pemerintahan dan pembangunan di tingkat akar rumput bisa macet. Itulah yang coba diantisipasi.
"Karena bagaimanapun, negeri ini terdiri daripada daerah-daerah, maka daerah juga harus maju untuk memajukan masyarakat. Itu intinya. Nah itulah kita berdiskusi tadi dan tentunya sudah dijelaskan oleh masing-masing (praktisi),"
Kalimat itu diucapkan JK dengan nada prihatin. Ia paham betul kompleksitas masalahnya.
Di sisi lain, salah satu praktisi yang hadir, Prof. Djohermansyah Djohan, menyoroti titik persoalan yang lebih spesifik. Menurutnya, ada penurunan signifikan kemampuan fiskal daerah. Imbasnya, tugas rutin pemerintahan, percepatan pembangunan, bahkan pelayanan di tingkat desa pun terancam. Ia melihat sejumlah kebijakan nasional justru membatasi ruang gerak kepala daerah.
Artikel Terkait
Wali Kota Semarang Umumkan Perbaikan Darurat dan Rencana Betonisasi Jalan Citarum
Bus Tabrak Lima Mobil Pemudik di Tol Batang, Satu Luka Ringan
Petugas KAI Bergerak di Stasiun Pekalongan Antisipasi Lonjakan Mudik Lebaran
Arus Mudik Mulai Padati Rest Area Tol Jakarta-Merak, Puncak Diprediksi 18 Maret