Persis Solo Hajar Bali United 3-0, Keluar dari Zona Degradasi

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 21:30 WIB
Persis Solo Hajar Bali United 3-0, Keluar dari Zona Degradasi

SOLO Sepak bola memang penuh kejutan. Satu malam saja bisa mengubah segalanya. Tekanan yang menumpuk, spekulasi yang berkecamuk, semuanya bisa sirna oleh 90 menit permainan yang brilian. Itulah yang dialami Persis Solo, Kamis malam itu. Di hadapan pendukungnya di Stadion Manahan, mereka menghajar Bali United dengan skor telak 3-0. Bukan cuma tiga poin, tapi sebuah pernyataan.

Suasana di Manahan terasa berbeda sejak awal. Laskar Sambernyawa tampil dengan energi yang meluap-luap, seolah ingin melupakan semua hasil buruk yang membelit mereka sepanjang musim. Serangan demi serangan dilancarkan, dan akhirnya berbuah di menit ke-32. Dejan Tumbas, striker asal Serbia, paling cekatan memungut bola dalam kemelut di depan gawang Bali United. 1-0.

Gol itu seperti pelepas dahaga. Persis makin percaya diri, dan sebelum turun minum, mereka menggandakan keunggulan. Kali ini Bruno Gomes, sang bomber Brasil, yang menjadi eksekutor pada menit ke-41. Babak pertama ditutup dengan senyum lega di bibir para pemain dan pelatih.

Namun begitu, Bruno rupanya belum puas. Di penghujung pertandingan, tepatnya di menit ke-90 10, ia kembali membobol gawang lawan. Tendangannya menutup pertandingan dengan angka 3-0, sekaligus melengkapi malam yang nyaris sempurna bagi tuan rumah.

Dampaknya langsung terasa di klasemen. Persis melonjak ke posisi 15 dengan 20 poin, keluar dari zona merah degradasi yang selama ini menghantui. Sebuah pencapaian kecil, tapi terasa sangat besar bagi klub yang sempat terpuruk ini.

Bagi Milomir Seslija, pelatih kepala asal Bosnia itu, kemenangan ini ibarat angin segar. Isu tentang masa depannya yang menggantung bahwa laga ini adalah pertaruhan terakhirnya seketika mereda. Timnya tak cuma menang, mereka tampil dengan karakter yang berbeda; lebih hidup, lebih berani.

“Kami sudah menganalisis. Kami tidak bisa menciptakan peluang, tidak meraih kemenangan, kebobolan banyak gol, dan atmosfer antara pemain tidak bagus,”

Begitu ujar Seslija dalam sebuah konferensi pers, mengungkap akar masalah yang ia temui. Kritiknya tajam. Ia menyebut sebagian pemain lama terjebak dalam zona nyaman dan kehilangan motivasi.

Itulah yang mendasari keputusan radikal manajemen beberapa waktu lalu: melakukan ‘cuci gudang’ dengan mendatangkan 17 pemain baru di tengah musim. Langkah berisiko yang sempat bikin banyak pihak mengernyit.

Tapi, menurut Seslija, itu sebuah kebutuhan mendesak. Dan hasilnya mulai kelihatan. Para pendatang baru menunjukkan sikap profesional yang lain. Beberapa langsung latihan intensif begitu turun dari pesawat.

“Para pemain ini turun dari pesawat, langsung latihan dengan intensitas tinggi dan menjalani pertandingan. Kita bisa lihat bagaimana mereka bertanding dan mereka tidak menyerah,”

katanya. Mentalitas ‘tidak menyerah’ itulah yang akhirnya terpancar jelas saat melibas Bali United.

Di sisi lain, jalan masih panjang. Euforia kemenangan ini harus segera dialihkan ke laga tandang yang tak kalah berat: menghadapi PSM Makassar di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, awal April nanti. Lawan yang juga sedang berjuang mencari konsistensi.

Fenomena Persis ini sebenarnya cermin dari masalah klasik sepak bola kita. Bukan soal teknik atau taktik semata, tapi lebih sering soal mental. Tim punya kualitas, tapi mudah ciut di bawah tekanan. PSM sendiri sempat merasakannya musim ini.

Jadi, malam kemenangan di Manahan itu barulah sebuah awal. Langkah pertama untuk bangkit. Ujian sesungguhnya ada di Parepare. Kalau bisa meraih poin di sana, Persis bukan cuma menjauh dari jurang degradasi. Mereka akan membuktikan bahwa kebangkitan Laskar Sambernyawa ini bukan sekadar kilasan sesaat, tapi awal dari sebuah perubahan yang sesungguhnya.

Semua mata kini tertuju ke tim asuhan Seslija. Bisakah mereka mempertahankan api yang baru saja mereka nyalakan?

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar