MURIANETWORK.COM - Sebuah catatan harian pribadi yang ditulis tangan oleh Kyai Haji (KH) Ahmad Surur al-Bugisi al-Pammani (1861-1932) berhasil mengungkap jejak perjuangan dan jaringan keulamaan sang imam di Pompanua, Bone. Dokumen berharga yang tersimpan puluhan tahun itu kini menjadi sumber primer untuk melacak kontribusinya dalam menyemai dakwah Islam di wilayah Sulawesi Selatan, jauh sebelum beberapa pesantren besar berdiri.
Mengenal Sang Penjaga Catatan Sejarah
Naskah-naskah kuno tersebut kini berada dalam penjagaan Fadly Ibrahim Surur, seorang cicit sekaligus sekretaris Yayasan Haji Ahmad Surur Kabupaten Bone. Fadly, yang juga seorang profesional di lingkungan BUMN, menyimpan catatan harian itu sejak 2012 setelah menerimanya dari kakeknya, AGH Yusuf Surur. Kepeduliannya terhadap sejarah keluarga dan dakwah mendorongnya untuk meneliti dan menuangkannya dalam sebuah buku berjudul "Serpihan Jejak Ulama di Pompanua (Menyemai Dakwah Islam di Nusantara)".
Sebagai alumni Lemhanas RI dan pusat kepemimpinan lainnya, Fadly telah aktif menulis artikel dan jurnal sejak 2009. Pengalamannya dalam penulisan sejarah keulamaan juga tercermin dari karya sebelumnya, seperti buku "Napak Tilas KH Ahmad Surur Al Bugisi Al Pammani" (2018).
Perjalanan Intelektual dan Spiritual Sang Imam
KH Ahmad Surur sendiri adalah putra dari Syekh Abdul Majid bin Abdul Hayyi al-Jawi al-Bugisi al-Buni, pendiri perkampungan Pompanua. Lahir pada 1861, perjalanan keilmuannya dibentuk oleh pengembaraan panjang. Ia pernah bermukim dan mendalami ilmu agama di Mekah selama sekitar empat tahun. Di tanah suci itulah, jaringan intelektualnya terbentuk melalui interaksi dengan ulama-ulama terkemuka.
Fadly Ibrahim menceritakan, sang kakek tercatat belajar dan berinteraksi dengan sosok-sosok seperti Sayyid Abdullah Dahlan dan Syekh Abdul Rasyid al-Bugisy, yang tak lain adalah ayah kandung dari AGH. Muhammad As’ad, pendiri Pesantren As’adiyah yang masyhur itu.
Pengabdian dan Disiplin di Tanah Kelahiran
Sepulangnya ke tanah air, pengabdian KH Ahmad Surur berpusat di Pompanua. Ia meneruskan dan mengembangkan pengajian yang telah dirintis ayah dan kakeknya. Pengajian yang dibinanya bahkan telah eksis sebelum Pesantren As’adiyah berdiri pada 1930 dan Pesantren Amiriyah Bone pada 1933. Selain aktif mengajar kitab kuning, ia juga diangkat sebagai imam distrik untuk wilayah Palili Desa Pompanua sejak 1923.
Kedisiplinannya tercatat dengan rapi. Pada 1928, ia menghimpun kaum remaja dalam wadah Yong Berejama, yang berfungsi sebagai kader dakwah dan penggerak aktivitas di masjid. Catatan hariannya, yang ditulis pada kertas folio bergaris merah dan biru menggunakan aksara lontara dan bahasa Arab, menjadi saksi bisu kesibukannya. Mulai dari mencatat hajatan warga, pendirian masjid, pengajian, hingga kunjungan para ulama, semuanya terdokumentasi dengan teliti.
Jaringan Ulama Nusantara dan Hadramaut
Catatan itu juga mengungkap betapa luas jejaring keulamaan KH Ahmad Surur. Rumahnya di Pompanua kerap menjadi tempat singgah para ulama, baik dari Arab maupun berbagai penjuru Sulawesi Selatan.
“Di antara tamu yang dijamu di rumahnya di Pompanua sesuai catatan harian tersebut, Sayyid Abubakar bin Shafi al-Habsyi, Sayyid Umar bin Shafi al-Habsyi, Habib Ahmad bin Shaleh al-Habsyi, Syekh Said Al-Makkawiy hingga Sayyid Ahmad bin Muhamamd Babud dan Sayyid Ahmad bin Abdullah Al-Sulabiyah,” jelas Fadly.
Beberapa dari ulama tersebut bahkan memilih untuk bermukim di daerah seperti Sengkang, Sidrap, Sinjai, Bone, Barru, dan Makassar, menunjukkan betapa kuatnya ikatan keilmuan dan persaudaraan yang terjalin pada masa itu.
Dakwah yang Menyatu dengan Budaya Lokal
Strategi dakwah KH Ahmad Surur sangat kontekstual. Ia tidak hanya mengajarkan teks-teks agama, tetapi juga dengan cerdas mengintegrasikannya dengan tradisi lokal sebagai media penyebaran nilai-nilai Islam. Salah satu kontribusi besarnya adalah dalam mengembangkan dan menggairahkan tradisi Mambarazanji (pembacaan Barzanji) dan Mambureddah (pembacaan Kitab Burdah) di Pompanua dan Bone Utara.
Untuk mempermudah pemahaman masyarakat, ia bahkan menerjemahkan Kitab Burdah ke dalam bahasa Bugis. Terjemahan inilah yang kemudian didendangkan warga dalam berbagai hajatan, mulai dari aqiqah, pernikahan, hingga ritual pertanian. Ia juga membuat sendiri gendering rabana sebagai pengiringnya.
Fadly Ibrahim memaparkan bahwa langkah tersebut bukan tanpa tujuan yang mendalam. “Beliau lakukan itu dalam rangka membentengi masyarakat dari pengaruh budaya yang dicoba diinfiltrasikan oleh penjajah Belanda. Sekaligus juga sebagai upaya untuk menguatkan nilai-nilai masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Fadly, KH Ahmad Surur adalah ulama yang gigih menguatkan tradisi Islam. “Beliau melakukan integrasi antara budaya yang dibawa oleh pendatang Hadramaut keturunan dari Syekh Abdullah Bafadal yang menyebarkan Islam di Bone Utara dengan tradisi di masyarakat setempat. Beliau menjadikan tradisi masyarakat setempat sebagai salah satu media dakwahnya,” tuturnya.
Warisan yang Terus Diteruskan
Semasa hidupnya, KH Ahmad Surur mewakafkan seluruh dirinya untuk membina umat. Semangat itu kini diteruskan oleh keturunannya. Di bawah naungan Yayasan Haji Ahmad Surur yang didirikan oleh H. Faisal Ibrahim dan Fadly Ibrahim, telah berdiri lembaga tahfidz Al-Qur'an yang berhasil mencetak puluhan hafiz. Dengan demikian, jejak dakwah sang ulama tidak hanya hidup dalam catatan tua, tetapi juga terus mengalir dalam generasi penerusnya.
Artikel Terkait
Pakar Hukum: Warga Berhak Gugat Negara atas Kelalaian Infrastruktur Publik
Pemimpin Kartel CJNG El Mencho Tewas, Kekacauan di Meksiko Picu Peringatan Perjalanan dan Pembatalan Penerbangan
Makassar Alokasikan Rp10,6 Miliar untuk Bangun Jalan Akses TPA Antang
Anggota DPR Desak Penyelidikan Kasus Sea Dragon Sampai ke Aktor Intelektual