Catatan Harian Ungkap Jaringan Dakwah Ulama Sulsel KH Ahmad Surur

- Senin, 23 Februari 2026 | 12:00 WIB
Catatan Harian Ungkap Jaringan Dakwah Ulama Sulsel KH Ahmad Surur

Catatan itu juga mengungkap betapa luas jejaring keulamaan KH Ahmad Surur. Rumahnya di Pompanua kerap menjadi tempat singgah para ulama, baik dari Arab maupun berbagai penjuru Sulawesi Selatan.

“Di antara tamu yang dijamu di rumahnya di Pompanua sesuai catatan harian tersebut, Sayyid Abubakar bin Shafi al-Habsyi, Sayyid Umar bin Shafi al-Habsyi, Habib Ahmad bin Shaleh al-Habsyi, Syekh Said Al-Makkawiy hingga Sayyid Ahmad bin Muhamamd Babud dan Sayyid Ahmad bin Abdullah Al-Sulabiyah,” jelas Fadly.

Beberapa dari ulama tersebut bahkan memilih untuk bermukim di daerah seperti Sengkang, Sidrap, Sinjai, Bone, Barru, dan Makassar, menunjukkan betapa kuatnya ikatan keilmuan dan persaudaraan yang terjalin pada masa itu.

Dakwah yang Menyatu dengan Budaya Lokal

Strategi dakwah KH Ahmad Surur sangat kontekstual. Ia tidak hanya mengajarkan teks-teks agama, tetapi juga dengan cerdas mengintegrasikannya dengan tradisi lokal sebagai media penyebaran nilai-nilai Islam. Salah satu kontribusi besarnya adalah dalam mengembangkan dan menggairahkan tradisi Mambarazanji (pembacaan Barzanji) dan Mambureddah (pembacaan Kitab Burdah) di Pompanua dan Bone Utara.

Untuk mempermudah pemahaman masyarakat, ia bahkan menerjemahkan Kitab Burdah ke dalam bahasa Bugis. Terjemahan inilah yang kemudian didendangkan warga dalam berbagai hajatan, mulai dari aqiqah, pernikahan, hingga ritual pertanian. Ia juga membuat sendiri gendering rabana sebagai pengiringnya.

Fadly Ibrahim memaparkan bahwa langkah tersebut bukan tanpa tujuan yang mendalam. “Beliau lakukan itu dalam rangka membentengi masyarakat dari pengaruh budaya yang dicoba diinfiltrasikan oleh penjajah Belanda. Sekaligus juga sebagai upaya untuk menguatkan nilai-nilai masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Fadly, KH Ahmad Surur adalah ulama yang gigih menguatkan tradisi Islam. “Beliau melakukan integrasi antara budaya yang dibawa oleh pendatang Hadramaut keturunan dari Syekh Abdullah Bafadal yang menyebarkan Islam di Bone Utara dengan tradisi di masyarakat setempat. Beliau menjadikan tradisi masyarakat setempat sebagai salah satu media dakwahnya,” tuturnya.

Warisan yang Terus Diteruskan

Semasa hidupnya, KH Ahmad Surur mewakafkan seluruh dirinya untuk membina umat. Semangat itu kini diteruskan oleh keturunannya. Di bawah naungan Yayasan Haji Ahmad Surur yang didirikan oleh H. Faisal Ibrahim dan Fadly Ibrahim, telah berdiri lembaga tahfidz Al-Qur'an yang berhasil mencetak puluhan hafiz. Dengan demikian, jejak dakwah sang ulama tidak hanya hidup dalam catatan tua, tetapi juga terus mengalir dalam generasi penerusnya.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar