Selama lebih dari enam dekade, Partai Golkar nyaris tak terbantahkan di Sulawesi Selatan. Sejak berdiri 61 tahun lalu, partai berlambang pohon beringin itu mencatat sebelas kali kemenangan berturut-turut dalam Pemilu Legislatif di provinsi ini. Sebuah rekor yang mengagumkan.
Di masa Orde Baru, dominasinya mutlak. Golkar menang enam kali. Lalu, meski angin reformasi berhembus, mereka tetap bertahan di puncak. Lima kali lagi mereka jadi pemenang: pada 1999, 2004, 2009, 2014, dan 2019. Tapi semua cerita kejayaan itu harus berakhir suatu hari.
Dan akhirnya, di Pemilu 2024, rekor panjang itu pun terpatahkan. Yang mengalahkannya justru partai sempalan, Partai Nasdem, yang didirikan mantan kadernya sendiri, Surya Paloh. Pukulan yang cukup telak bagi mesin politik tua ini.
Yang lebih menyakitkan, kekalahan itu datang dari orang yang pernah mereka besarkan. Rusdi Masse, politisi yang dulu berkarier di Golkar setelah hijrah dari Partai Bintang Reformasi, berperan besar dalam kemenangan Nasdem. Kini, Rusdi sudah berpindah lagi ke PSI. Bukan cuma suara, posisi strategis Ketua DPRD Sulsel pun lepas. Andi Ina Kartika Sari dari Golkar harus lengser, digantikan kader Nasdem, Andi Rachmatika Dewi.
Lalu, apa yang tersisa untuk Golkar Sulsel sekarang?
Menurut Muhammad Randhy Akbar, pengamat politik dari FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar, peluang untuk bangkit masih ada. Modal politiknya, katanya, masih kuat. Jejaring kultural yang sudah puluhan tahun dibangun, kader-kader yang mengisi posisi di pemerintahan daerah, dan yang duduk di kursi legislatif, adalah aset berharga.
“Dengan infrastruktur politik yang sudah matang itu, sebenarnya posisi tawar Golkar masih kuat. Mereka punya peluang untuk mengubah pengaruh ketokohan lokal di berbagai daerah menjadi kursi di parlemen, untuk menggeser dominasi pesaingnya,” jelas Randhy.
Ia melihat momentum suksesi kepemimpinan, setelah meninggalnya Taufan Pawe, bisa jadi titik balik. Kuncinya ada di ketua baru yang mampu menyatukan semua faksi yang ada.
“Soliditas lintas kubu itu mutlak. Itu dasar untuk menyusun koalisi yang strategis dan taktik pemenangan di daerah-daerah basis yang persaingannya ketat,” ujar kandidat doktor Ilmu Politik Unhas ini.
Di internal partai, semangat untuk merebut kembali tahta memang masih menyala. Menjelang Musda XI yang diagendakan bulan April ini, sejumlah program sedang disiapkan. Armin Mustamin Toputiri, dari Steering Committee Golkar Sulsel, menyebut mereka sedang merancang “Catur Sukses”.
Roadmap itu berisi empat poin: Sukses Konsolidasi Organisasi, Sukses Pengaderan, Sukses Program Penggalangan, serta Sukses Pemenangan di Pileg, Pilkada, dan Pilpres.
“Tugas ketua dan pengurus periode berikutnya adalah merealisasikan strategi Catur Sukses ini. Program ini akan kita bahas lebih detail dalam rapat sebelum Musda,” tutur Armin, yang pernah dua periode menjadi legislatif.
Perubahan peta politik ini terlihat jelas jika kita bandingkan hasil pemilu sebelumnya. Pada 2019, Golkar masih di puncak dengan 13 kursi, mengungguli Nasdem yang dapat 12. Tapi lima tahun kemudian, situasi berbalik.
Di Pemilu 2024, Nasdem melesat jadi pemenang dengan 17 kursi. Golkar, meski bertambah satu kursi menjadi 14, harus puas di posisi runner-up. Gerindra mengikuti ketat di belakang dengan 13 kursi. Sementara partai-partai lain seperti PDIP dan PAN mengalami penurunan kursi yang signifikan.
Pertarungan untuk kembali ke puncak, tampaknya, tidak akan mudah. Tapi dalam politik, seperti kata pepatah, tidak ada yang abadi. Baik di puncak, maupun di lembah kekalahan.
Artikel Terkait
Ekspor Unggas Indonesia Tembus 545 Ton di Awal 2026
Sekjen Golkar Desak Polisi Usut Tuntas Penusakan yang Tewaskan Ketua DPD Maluku Tenggara
Anggota DPR Mangihut Sinaga Sebut Ancaman Narkoba pada Generasi Muda Sudah Darurat
Mantan Pimpinan DPRD Sulsel Bantah Pernah Bahas Anggaran Bibit Nanas