Ledakan di SMP Sungai Raya: Dendam Korban Perundungan yang Meledak

- Rabu, 04 Februari 2026 | 16:12 WIB
Ledakan di SMP Sungai Raya: Dendam Korban Perundungan yang Meledak
Ledakan di Sekolah Sungai Raya, Polisi Ungkap Motif Pelaku

Kepanikan melanda SMP Negeri 3 Sungai Raya, Selasa lalu. Suara ledakan terdengar sebanyak empat kali, memecah suasana belajar. Dari kejadian itu, seorang siswa akhirnya menderita luka ringan. Ia menginjak serpihan paku yang berserakan dari material bangunan yang rusak. Kabar baiknya, korban sudah diizinkan pulang untuk beristirahat.

Menanggapi insiden ini, Juru Bicara Densus 88 Kombes Myandra Eka Wardhana mengonfirmasi bahwa barang bukti telah diamankan. Pelakunya ternyata seorang siswa kelas IX di sekolah yang sama.

Myandra menyebut ada beberapa barang berbahaya yang berhasil disita penyidik. Salah satunya adalah gas portable.

"Padanya, ditemukan beberapa benda berbahaya yakni 5 buah gas portable yang bagian sampingnya direkatkan petasan, paku dan pisau," tutur Myandra.

Tak cuma itu. Tim juga menyita enam bom molotov dan sebilah pisau. Barang-barang itu cukup untuk menggambarkan niat serius di balik aksi tersebut.

Lalu, apa yang mendorong seorang pelajar melakukan hal seperti ini? Menurut penelusuran polisi, remaja itu terpapar komunitas True Crime Community atau TCC. Dia juga disebut-sebut gemar mengonsumsi konten kekerasan di dunia maya. Tapi, rupanya ada faktor lain yang lebih personal.

Pelaku diduga adalah korban perundungan. Dendam yang terpendam lama terhadap teman-teman yang kerap membullynya, ditambah dengan masalah keluarga yang dihadapi, menjadi pemicu utamanya.

"Yang bersangkutan merupakan korban perundungan dan memiliki keinginan untuk melakukan balas dendam kepada rekan-rekan yang kerap kali melakukan perundungan terhadapnya juga diduga kuat menghadapi masalah keluarga," jelas Myandra.

Kasus ini tentu meninggalkan kepiluan. Di satu sisi, ada aksi kekerasan yang mengancam nyawa. Di sisi lain, ada kisah seorang anak yang merasa terpojok, hingga memilih jalan keluar yang keliru. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman, berubah menjadi lokasi kejadian yang mencemaskan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar