Sayangnya, banyak negara berkembang dan Indonesia termasuk di dalamnya masih terbelit romantisme "jalan sendiri". Kita tahu sistem kita bermasalah, tapi tetap dipertahankan. Regulasi tidak efisien, cuma ditambal sulam. Kebijakan sering gagal, tapi kita jarang bertanya hal yang sederhana.
Bayangkan dalam dunia medis. Adakah dokter waras yang menolak terapi standar lalu mencoba metode baru tanpa bukti pada pasiennya? Tentu tidak. Namun, dalam kebijakan publik, hal semacam itu justru sering dibanggakan. Padahal risikonya jauh lebih mengerikan. Kelinci percobaannya bukan satu orang, tapi satu bangsa utuh.
Perlu dicatat, meniru bukan berarti kehilangan jati diri. Justru, itu adalah langkah awal menuju kematangan. Semua bangsa maju pernah melalui fase ini. Jepang meniru Barat di era Restorasi Meiji. Korea Selatan meniru sistem industri dan pendidikan negara yang lebih dulu maju. Tak ada satu pun negara sukses yang lahir dari "ide orisinal murni" tanpa referensi sama sekali.
Jadi, pelajaran utamanya sebenarnya sederhana. Kebodohan negara terbelakang seringkali bukan karena kurang pintar, melainkan karena sikap angkuh yang menolak belajar dari kesuksesan pihak lain.
Selama kita masih bersikeras berjalan di jalur yang sudah jelas bermasalah, sambil menutup mata pada metode yang terbukti berhasil, maka gelar "negara berkembang" ini akan terus kita sandang. Bukan hanya untuk diwariskan ke anak cucu, tapi mungkin sampai ke cicit kita nanti.
Dan itu semua, pada akhirnya, bukanlah takdir. Itu murni pilihan.
EPW 28/1/2026
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 3,05%, Analis Soroti Support Kunci yang Jebol
Mentan Amran Gelar Ramadan Tanpa Sekat, Bagikan Bantuan ke 500 Penerima
DPR Dorong Sekolah Siapkan Guru Hadapi Pembatasan Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Kapolri Buka Posko Pengaduan Khusus Kasus Penyiraman Aktivis KontraS