Sementara itu, pedagang kaki lima dan pekerja jasa lain menghadapi risiko yang lebih sunyi. Berdiri terlalu lama, mengangkat beban berat, bekerja di tempat tak sehat semua itu perlahan menggerogoti tubuh. Gangguan otot, penyakit kronis, hingga masalah mental mengintai. Kelelahan kronis jadi kondisi normal, bukan alarm bahaya.
Persoalannya, sistem K3 kita masih terlalu fokus pada sektor formal. Regulasi jam kerja, pemeriksaan kesehatan, pengawasan semua itu seolah hanya untuk perusahaan resmi. Dunia kerja informal seperti hidup di ruang hampa. Kecelakaan dan penyakit tak dilaporkan, tak tercatat, dan tak diakui sebagai masalah sistemik. Jadilah, kerja berlebih melahirkan krisis K3 yang senyap. Risikonya nyata, tapi tak terlihat di data.
Normalisasi ini menciptakan dilema pahit. Tanpa jaring pengaman sosial, sakit berarti penghasilan terhenti. Istirahat artinya kehilangan kesempatan. Maka, pilihan yang dianggap paling masuk akal adalah terus bekerja meski badan sudah lelah. Lingkaran setan ini terus berputar: kerja berlebih picu kelelahan, tingkatkan risiko, dan ujung-ujungnya malah merusak kapasitas kerja jangka panjang. Produktivitas yang dihasilkan pun semu, dibayar dengan terkurasnya sumber daya manusia.
Mencari Jalan Keluar yang Manusiawi
Menghadapi situasi seperti ini, nasihat soal manajemen waktu atau work-life balance terasa janggal. Akar masalahnya struktural. Soal pendapatan yang tak mencukupi, perlindungan yang absen, dan kebijakan yang terlalu berat sebelah. Karena itu, solusinya juga harus menyentuh level sistem.
Pendekatan K3 harus diperluas. Keselamatan dan kesehatan kerja adalah hak setiap orang yang bekerja, terlepas dari statusnya formal atau tidak. Pengendalian kelelahan, edukasi risiko, dan perlindungan dasar harus dirancang sesuai realita pekerja informal, bukan hanya untuk karyawan kantoran.
Di sisi lain, perlindungan sosial harus diperkuat. Ini jadi penyangga agar pekerja tak dipaksa memilih antara sehat dan makan. Jika sakit tak serta-merta berarti penghasilan nol, orang punya ruang untuk memulihkan diri. Ini bukan cuma soal kesejahteraan individu, tapi investasi untuk produktivitas nasional jangka panjang.
Data dan pengakuan juga krusial. Selama kecelakaan dan penyakit di sektor informal tak tercatat, masalah ini akan selalu dianggap sepele. Mengakui kelelahan dan penyakit akibat kerja sebagai isu K3 adalah langkah awal untuk membongkar normalisasi risiko yang sudah mengakar.
Pada akhirnya, ini semua bermuara pada satu pertanyaan mendasar. Arah pembangunan ketenagakerjaan kita mau dibawa ke mana? Apakah pertumbuhan ekonomi akan terus mengandalkan jam kerja panjang dan kelelahan massal? Atau kita memilih fondasi yang lebih manusiawi: kerja yang aman, sehat, dan layak?
Ketika kerja berlebihan menjadi harga mati untuk hidup layak, ancaman K3 bukan lagi sekadar persoalan teknis. Ia adalah cermin ketimpangan. Kerja seharusnya menjadi sarana untuk hidup lebih bermartabat, bukan arena untuk mempertaruhkan nyawa dan kesehatan hanya demi bertahan. Melindungi pekerja dari kerja berlebih dan risiko K3 bukan beban. Itu sebuah keharusan, jika kita ingin membangun produktivitas yang berkelanjutan dan berperikemanusiaan.
Artikel Terkait
Video Bantah Klaim Gedung Putih, Perawat Tewas Ditembak Agen Imigrasi
Pendidikan Terjebak Pasar: Saat Sekolah Hanya Cetak Pekerja, Bukan Manusia
Adies Kadir Ditetapkan sebagai Hakim MK, Gantikan Calon yang Sudah Disetujui DPR
DPR Sahkan Hery Susanto Pimpin Ombudsman Periode 2026-2031