Headline media pekan ini menyoroti angka yang cukup mencengangkan. Data BPS dari Sakernas Agustus 2025 menunjukkan, sekitar 37,3 juta orang di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Bayangkan, itu berarti hampir 9 hingga 10 jam per hari. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi gambaran nyata dari keseharian jutaan orang.
Bekerja terlalu lama kini seolah jadi hal biasa. Bukan lagi dianggap sebagai kondisi darurat, melainkan sebuah strategi. Strategi untuk bertahan. Di tengah biaya hidup yang terus merangkak naik sementara pendapatan mandek, satu pekerjaan saja seringkali tak cukup. Akhirnya, jam kerja dipaksa panjang, pekerjaan dirangkap, dan waktu istirahat pun dikorbankan. Semua demi sekadar hidup layak.
Fenomena ini paling kentara di sektor informal, tempat mayoritas pekerja kita bergantung. Coba lihat sekeliling. Pengemudi ojek daring yang ngebut dari subuh hingga larut malam demi mengejar target. Buruh bangunan yang lembur atau berpindah proyek tanpa kepastian upah dan perlindungan. Atau pedagang kaki lima yang bertahan di tempat tak ergonomis belasan jam lamanya. Dalam situasi ini, tubuh mereka adalah modal utama sekaligus penyangga terakhir ketika sistem tak memberikan perlindungan.
Yang ironis, kerja berlebihan ini kerap dibalut narasi positif: kerja keras, ketangguhan, dan semangat juang. Namun begitu, di balik romantisme "hustle culture" itu tersimpan risiko serius. Risiko terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, atau K3. Ketika kerja lebih lama jadi prasyarat untuk hidup layak, maka keselamatan dan kesehatan berubah statusnya. Bukan lagi hak, tapi kemewahan yang tak terjangkau.
Normalisasi Risiko di Lapangan
Di sektor informal, jam kerja panjang jarang berdiri sendiri. Praktik ini biasanya datang berbarengan dengan absennya standar keselamatan, minimnya alat pelindung, dan tak adanya pengendalian risiko. Padahal, dalam perspektif K3, kelelahan adalah faktor risiko besar. Tubuh yang dipaksa melampaui batasnya akan mengalami penurunan konsentrasi, refleks melambat, dan kesalahan pun meningkat. Tapi siapa yang peduli?
Ambil contoh pengemudi ojek online. Banyak dari mereka mengakui, 10-12 jam di jalan adalah hal biasa. Mereka berhadapan dengan kantuk, tekanan target, dan terik hujan sepanjang hari.
"Kalau berhenti, ya nggak dapat order. Mau makan apa?" begitu kira-kira keluh seorang pengemudi.
Begitu kecelakaan terjadi, itu sering dilihat sebagai nasib buruk atau kelalaian pribadi. Bukan sebagai konsekuensi logis dari sistem yang mendorong kerja tanpa jeda.
Nasib serupa menimpa buruh bangunan harian. Bekerja di ketinggian atau lingkungan berbahaya, sering tanpa pelatihan memadai. Kelelahan fisik akibat jam panjang hanya meningkatkan peluang kecelakaan fatal. Tapi insiden seperti ini jarang tercatat sebagai kecelakaan kerja resmi. Hilang begitu saja.
Artikel Terkait
Video Bantah Klaim Gedung Putih, Perawat Tewas Ditembak Agen Imigrasi
Pendidikan Terjebak Pasar: Saat Sekolah Hanya Cetak Pekerja, Bukan Manusia
Adies Kadir Ditetapkan sebagai Hakim MK, Gantikan Calon yang Sudah Disetujui DPR
DPR Sahkan Hery Susanto Pimpin Ombudsman Periode 2026-2031