Kawasan Ring Road Selatan ini adalah jalur cepat. Dirancang untuk mobilitas tinggi, bukan untuk berhenti lama. Tapi kenyataannya? Di beberapa titik, kebutuhan untuk putar balik sangat besar. Sayangnya, fasilitas seperti lampu lalu lintas atau penyeberangan yang aman seringkali absen.
Di ruang abu-abu inilah Agus, Bambang, dan Rian beroperasi. Di antara kebutuhan praktis dan risiko keselamatan.
Muhammad Affan Al Ikhsan, mahasiswa yang rutin bawa mobil ke kampus, mengakui jasa mereka.
"Sangat membantu, terutama pas jam sibuk," ujarnya. Dua ribu rupiah, baginya, harga yang murah dibanding risiko mobil lecet atau ditabrak saat memutar balik.
Pendapat serupa datang dari Asya Anavalis Kustiana, pengendara motor.
"Posisi kami lebih rentan di jalur cepat gini," katanya.
Ia bahkan bercerita suatu kali saat hujan deras. Jarak pandang terbatas, jalanan licin. Tapi para penjaga ini tetap berdiri di sana, dengan jas hujan plastik seadanya, menjaga agar arus lalu lintas tidak kacau dan menyebabkan kecelakaan.
Garisan Tipis Antara Survival dan Preman
Fenomena ini, tentu saja, bukan sekadar soal orang mengais recehan di jalan. Ini cerminan persoalan sosial yang lebih luas. Menyangkut ekonomi, infrastruktur, dan keselamatan publik.
Filosa Gita Sukmono, dosen Sosiologi UMY, punya pandangan menarik.
Menurutnya, praktik ini adalah manifestasi dari tekanan ekonomi yang tak terhindarkan. Mereka muncul untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan sistem formal. Saat otoritas belum hadir memberikan solusi keamanan, masyarakat menciptakan mekanisme survivalnya sendiri.
"Tapi ada batas tipis yang harus dijaga," pungkas Filosa. Jangan sampai praktik tolong-menolong ini bergeser menjadi aksi premanisme yang justru meresahkan.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi soal rencana pembangunan fasilitas keselamatan permanen di titik-titik rawan tersebut. Selama solusi sistemik belum menyentuh aspal, orang-orang seperti Agus dan kawan-kawan akan terus mengisi ruang kosong itu. Demi bertahan hidup, meski harus berhadapan dengan bahaya setiap detiknya.
Bayangan yang Memanjang
Sore menjelang. Bayangan tubuh Agus memanjang di aspal yang mulai kehilangan panasnya. Cahaya jingga tak lagi menyilaukan, tapi arus kendaraan justru makin menggila. Klakson bersahutan, deru mesin konstan. Simfoni kebisingan yang tak berujung.
Di saku celana mereka, lembaran dua ribu rupiah dan koin-koin beradu. Gemerincing tipis di setiap langkah. Itulah penanda hasil peluh hari ini. Pengingat betapa rapuhnya sandaran hidup yang mereka punya.
Selama fasilitas resmi belum hadir, mereka akan tetap setia berdiri di sana. Mempertaruhkan tenaga dan nyawa untuk recehan di jalur cepat yang tak pernah tidur.
Kalau selembar dua ribu rupiah bisa membeli waktu dan keselamatan seorang pengendara, lantas berapa harga nyawa mereka yang berdiri tanpa perlindungan di tengah aspal itu?
Pertanyaan itu masih menggantung, seperti debu yang beterbangan diterpa angin Ring Road Selatan.
Artikel Terkait
Kobaran Api Hanguskan Kapal di Pelabuhan Muara Baru, Asal Usul Masih Misterius
Sengketa Lahan Berujung Adu Senjata Angin di Padang Lawas Utara
Dua Kelarga Berdamai, Kasus Penganiayaan Anak di Warung Kelontong Ditutup
Uang Haram Sertifikasi K3 Dijadikan Uang Saku Pejabat Kemnaker