Hukum tak cuma soal pasal, tapi juga pesan yang sampai ke orang-orang. Ambil contoh kasus begal di Sleman itu. Seorang suami mengejar penjambret yang mengincar istrinya, eh malah berakhir jadi tersangka. Banyak yang gelisah: apa sekarang menolong jadi sebuah risiko?
Buat warga biasa, ini bukan cuma berita kriminal belaka. Ini cerita yang mereka baca, mereka omongin, lalu diam-diam mereka simpulkan: mending diam. Di sinilah masalahnya jadi lebih besar. Persoalannya nyentuh keberanian kita untuk peduli pada sesama.
Saya tidak mau menyederhanakan hukum atau membenarkan tindakan sembarangan. Cuma, kita perlu lihat dampak kemanusiaannya. Bagaimana sebuah kasus diproses, dan pelajaran apa yang diam-diam dipetik masyarakat dari sana.
Kejahatan dan Reaksi yang Manusiawi
Dalam hidup nyata, kejahatan jarang ngasih kode. Datangnya tiba-tiba, sering brutal, dan korban biasanya orang terdekat. Di saat kayak gitu, reaksi orang jarang lahir dari kalkulasi pasal-pasal hukum. Itu murni naluri: melindungi dan menghentikan ancaman.
Naluri itu sebenarnya hal yang wajar. Bahkan, dari situlah rasa aman bersama terbangun. Masyarakat yang masih mau nolong korban, teriak minta tolong, atau kejar pelaku, itu tandanya mereka belum menyerahkan ruang publik sepenuhnya pada kejahatan.
Masalahnya muncul ketika reaksi manusiawi tiba-tiba diperlakukan seolah berdiri sendiri. Terlepas dari kejahatan yang memicunya. Di titik ini, pesan yang nyampe ke publik berubah. Bukan lagi soal benar-salah, tapi aman-atau-berisiko.
Pesan Sunyi yang Ditangkap Warga
Warga nggak baca berkas perkara. Mereka baca ujung ceritanya saja.
Begini. Ketika sebuah kejahatan memicu rangkaian peristiwa, tapi perhatian hukum cuma fokus ke akibat terakhir, masyarakat akan ambil pelajaran praktis: niat baik nggak jamin kamu aman secara hukum. Dari sini lahirlah "efek diam". Pilihan untuk menyingkir, nggak ikut campur, dan menghindari urusan orang lain.
Efek ini bukan lahir dari kebencian pada hukum. Ini murni kehati-hatian yang rasional: lebih aman jadi penonton. Kalau pola ini makin kuat, aparat akan bekerja di ruang publik yang makin sepi. Tanpa teriakan minta tolong, tanpa keberanian warga untuk peduli.
Akar Masalah yang Sering Kelewat
Di balik semua ini, ada persoalan mendasar yang kerap luput: cara kita baca sebab dan akibat.
Penjambretan adalah sebab awalnya. Itu yang menciptakan situasi darurat. Itu yang memicu pengejaran. Itu yang meningkatkan risiko di jalan. Kejar-kejaran dan kecelakaan adalah akibat dari kejahatan itu sendiri.
Artikel Terkait
Longsor di Pemalang Tewaskan Anak, Ayah Masih Dicari di Tengah Cuaca Ekstrem
Menteri Kesehatan Minta Rp 529 Miliar untuk Bangkitkan Faskes Aceh-Sumatera
Anggota DPR Tagih Janji Prabowonomics: Publik Masih Tunggu Bukti Nyata
Gus Alex Kembali Diperiksa KPK, Kasus Kuota Haji Mencuat