Banjir bandang yang menerjang Tapanuli Raya sepertinya tidak datang begitu saja. Ada "jalan" yang dibuka untuknya tumpukan izin di hulu yang mengubah wajah lanskap.
Kalau kita lihat peta wilayah Batang Toru hingga Sibual-Buali, pemandangannya cukup mencengangkan. Satu demi satu proyek besar berjejalan di sana.
Ada tambang emas PT Agincourt Resources yang areanya sangat luas. Lalu PLTA Batang Toru yang memotong aliran sungai. Belum lagi PLTU di pesisir, hutan industri, dan wilayah kerja panas bumi yang menyelimuti pegunungan.
Semua itu, ironisnya, berdiri di atas daerah aliran sungai yang sama. Fungsi alaminya seharusnya menahan dan memecah energi air sebelum sampai ke hilir.
Namun begitu hujan ekstrem datang kemarin, air tidak lagi bertemu hutan yang rapat. Yang ditemui justru lereng yang sudah disayat untuk jalan tambang, punggung bukit yang dibuka, serta terowongan air untuk proyek energi.
Akibatnya? Kita semua menyaksikannya di berita-berita.
Banjir bandang menggulung segala yang dilewati gelondongan kayu, lumpur, dan batu-batu besar. Rumah-rumah warga, jembatan, hingga mata pencaharian di Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan sekitarnya luluh lantak.
(JATAM Jaringan Advokasi Tambang)
Banjir bandang di Tapanuli Raya bukan datang sendirian; ia turun ke kampung-kampung setelah lebih dulu “dibuka jalan” oleh tumpukan izin di hulu. Peta ini memperlihatkan bagaimana satu lanskap Batang Toru–Sibual‑Buali dijejali berbagai proyek: tambang emas PT Agincourt Resources… pic.twitter.com/VDbaaOXn8k
— JATAM Nasional (@jatamnas) November 30, 2025
Artikel Terkait
Disdik Bone Dorong Pemerataan PPDB, Minta Masyarakat Tak Lagi Terpaku pada Sekolah Favorit
BMKG Catat Tsunami Terjang Sembilan Wilayah Usai Gempa M 7,7 di Filipina, Tertinggi 0,75 Meter
Pantai Apparalang Dikelola Tanpa Izin, Kadispar Bulukumba Sebut Retribusi Masuk Kategori Pungli
Waspada Angin Kencang hingga 35 km/jam, BMKG Imbau Masyarakat Sulsel Bagian Selatan Tingkatkan Kewaspadaan