Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuding pasukan Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap sebuah pabrik desalinasi di Pulau Qeshm. Padahal, fasilitas itu fungsinya vital: mengubah air laut menjadi air minum yang layak konsumsi.
Menurut Araghchi, aksi AS ini bukan sekadar pelanggaran biasa. Dia menyebutnya sebagai sebuah "kejahatan yang terang-terangan dan putus asa." Imbasnya langsung terasa di lapangan. Pasokan air bersih untuk puluhan desa di sekitar wilayah itu pun langsung amburadul.
"Pasokan air di 30 desa telah terganggu," ujarnya tegas.
Dia juga mengingatkan soal bahaya preseden yang diciptakan Washington. "Menyerang infrastruktur Iran adalah langkah berbahaya dengan konsekuensi serius. AS yang menetapkan preseden ini, bukan Iran," imbuh Araghchi, menegaskan posisi Tehran.
Iran jelas tak mau tinggal diam. Balasan datang tak lama kemudian, dan sasarannya adalah pangkalan militer AS di Bahrain. Situasi di sana langsung mencekam. Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan sirene serangan udara berbunyi, mendesak warganya untuk tetap tenang dan segera mencari tempat perlindungan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim tanggung jawab atas serangan balasan ini. Mereka menyatakan telah menembakkan rudal baik yang berbahan bakar padat maupun cair ke arah pangkalan AS di kawasan Juffair, Bahrain.
Artikel Terkait
BPS: Tren Penduduk Tinggal Sendirian di Indonesia Menurun Drastis pada 2024-2025, Perempuan Mendominasi
Wayan Sudirta: Pemikiran Soekarno Masih Relevan Hadapi Gejolak Global dan Krisis Hukum
Polsek Cikarang Pusat Kerahkan 56 Personel Gabungan dalam Operasi Antikejahatan Jalanan di Alam Sari
Ketergantungan 90 Persen Bahan Baku Impor, DPR Dorong Kenaikan Harga Obat Dilakukan Bertahap